"Hebat. Sangat hebat. Aku sama sekali tidak menyangka anjing-anjing pelacak dari kota bisa menembus jebakan Sentherewe dan sampah-sampah Rajah Wengi di bawah sana."Suara tepuk tangan pelan yang penuh nada meremehkan itu menyambut kedatangan mereka, mengalahkan deru deras Air Terjun Cukang Bodas yang menghantam bebatuan.Kukuh menghentikan langkahnya. Di belakangnya, Pak Jaka, Ki Ageng Seta, dan Nyi Rarasati langsung menyebar, membentuk formasi siaga.Di depan mereka, tepat di atas sebuah batu cadas besar yang menutupi akses menuju gua di balik tirai air terjun, berdirilah seorang pria paruh baya. Pria itu mengenakan pakaian serba hitam yang praktis, dengan sebuah tongkat kayu berukir tengkorak di tangan kanannya. Asap tipis berbau belerang menguar dari kantong-kantong kecil di sabuknya."Jadi, ini akhir dari pelarianmu," ucap Kukuh tenang, matanya menatap tajam pria paruh baya tersebut. "Berhenti membuang nyawa anak buahmu. Matikan dupamu sekarang."Pria itu menyeringai, memamerkan r
Read more