Share

Bab 418

Author: Millanova
last update publish date: 2026-09-04 21:23:13

"Mundur, Nak Kukuh! Biar aku yang meremukkan tulang rusuk pemegang keris itu!" teriak Kyai Agus dengan napas memburu.

Pria paruh baya itu menyarungkan kerisnya sesaat, menarik napas dalam-dalam, lalu memusatkan seluruh energi logam murni ke kepalan tangan kanannya. Kepalannya seketika berubah warna menjadi kehitaman, sekeras baja padat yang memancarkan uap panas.

"Itu Ajian Pukulan Brojo Wesi!" seru salah satu prajurit Rajah Wesi yang berjaga di sisi sayap. "Kyai, hati-hati! Ritme mereka masih
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 611

    Adiwangsa tidak pernah melangkah masuk ke dalam kawasan hutan seorang diri.Selama tiga dekade mendedikasikan diri di industri pengolahan kayu, ia senantiasa berjalan di antara barisan pepohonan yang harga per metrik kubiknya telah ia kalkulasikan sebelum jemarinya menyentuh tekstur kulit batunya. Dalam kurun waktu tersebut, figur pendamping menjadi hal mutlak mulai dari surveyor lapangan, mandor, hingga asisten pribadi yang siap merespons setiap permintaannya perihal estimasi kapasitas muat kontainer. Baginya, rimba senantiasa tereduksi menjadi sekadar angka, nilai tukar komersial, serta komoditas yang siap dikapalkan menuju pelabuhan ekspor.Namun, hari ini ia memilih berjalan tanpa pengawalan.Bukan lantaran ketiadaan orang yang bersedia menemani, melainkan kebutuhan mendesak untuk menyimak tanpa intervensi bising suara manusia. Perkebunan jati Kencana menjadi satu-satunya tempat di mana keheningan bekerja begitu sempurna, membiarkan frekuensi lain yang selama ini teredam dapat ter

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 610

    Mobil keluarga berukuran lapang itu merapat di halaman kediaman keluarga Kencana. Suara mesinnya terdengar kontras, memecah kesunyian desa pesisir yang terlampau senyap. Kendaraan tersebut memuat formasi lengkap tiga jiwa yang memutuskan bahwa tiada seorang pun dari mereka yang boleh melangkah sendirian ke pesisir selatan.Ratih melangkah turun paling awal. Tas selempang tersampir di bahu, sementara rambutnya diikat asal. Manik matanya langsung memindai satu titik prioritas: Kukuh. Begitu mendapati sang suami berdiri di teras, Ratih tidak berlari, pun tidak melontarkan sapaan berteriak. Ia sekadar berjalan tenang, menghentikan langkah tepat di hadapan tangga, lalu menatap lekat-lekat lelaki yang dinikahinya."Kau tampak semakin kurus.""Aku baru tiga hari di sini, Tih.""Tiga hari sudah lebih dari cukup."Menyusul di belakangnya, sang ibu mertua Dian turun membawa perkakas tempur andalannya. Di tangannya terselip sebuah wajan legendaris yang sisi-sisinya telah menghitam legam. Di bawa

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 609

    Darma Wicaksana menjejakkan kaki di kawasan hutan jati Kencana tepat keesokan paginya.Ia tidak datang seorang diri; tiga unit kendaraan mengular memasuki area perkebunan dua unit SUV hitam pekat berpadu sebiji mobil pikap putih berlogo korporasi di pintu kabin. Di atas bak terbuka pikap tersebut tersusun rapi perangkat survei geodetik modern: tripod, meteran laser, hingga kotak-kotak instrumen yang tujuannya tak perlu ditebak lagi oleh Kukuh.Kukuh telah siaga menyambut. Ia berdiri tegak di tepi jalur tanah lintasan hutan, menyembunyikan kedua tangan di dalam saku celana. Di belakang punggungnya, barisan pohon jati membentang lurus dalam formasi terlampau presisi menandakan intervensi manusia masa lampau yang merawatnya secara sistematis.SUV terdepan berhenti sempurna. Darma melangkah turun dari kabin. Penampilan hari ini dirancang berbeda; setelan jas gelap bernilai fantastis, dipadukan alas kaki lapangan khusus. Sepatu itu terlampau bersih untuk ukuran seseorang yang hendak menjel

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 608

    "Lima belas menit waktu Anda sudah habis, Dokter."Darma melontarkan kalimat itu tanpa sekali pun mendongak dari tumpukan berkas di hadapannya. Ia hanya mengangkat sebelah tangan isyarat dingin yang mengusir tamunya secara halus, seolah kehadiran Kukuh tak lebih dari sekadar angin lalu di antara deretan angka dan laporan korporat.Kukuh tidak membuang tenaga untuk berdebat. Ia meraih tas ranselnya dari lantai, menyampirkannya ke bahu, lalu memutar gagang pintu. Di luar, koridor lantai sebelas terbentang senyap, dipagari dinding kaca raksasa yang memantulkan langit kelabu menjelang petang.Begitu daun pintu berderit menutup di belakangnya, tarikan napas Kukuh yang tertahan akhirnya terhela panjang. Ada hawa dingin yang tertinggal di dalam ruangan tadi bukan sekadar hembusan AC sentral berkapasitas tinggi, melainkan sensasi organiknya. Goresan tipis menyerupai akar pohon di pergelangan tangan Darma dan aroma tanah basah yang menyeruak dari pot kosong di sudut ruangan bukanlah halusinasi

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 607

    "Simak baik-baik, Nak. Aku hanya akan mengucapkannya sekali."Nyai Segoro bersila di atas batu karang, menepikan jaring rajutannya ke sisi tubuh. Di pangkuannya, terhampar bungkusan kain putih legendaris yang belum berpindah tangan. Jemput jari tuanya meraba permukaan kain itu perlahan gestur kehati-hatian layaknya memperlakukan benda rapuh yang pantang retak.Kukuh mengambil posisi berhadapan di atas hamparan pasir pesisir yang mulai mendingin seiring malam yang merangkak turun. Ia memasang atensi penuh."Ritual ini bukanlah upacara adat biasa," tutur Nyai Segoro dengan intonasi datar, stabil, dan berbaur sempurna dengan deru ombak. "Ini bukan wadah doa, pun bukan untaian mantra. Ini adalah transaksi pelunasan utang. Dan transaksi mutlak tunduk pada regulasi: syaratnya harus terpenuhi tanpa kompromi, tanpa pengurangan, serta tiada ruang substitusi. Apabila satu elemen terabaikan, pembayaran otomatis ditolak. Dan saat itu terjadi, samudra akan datang mengeksekusi."Kukuh mengangguk ta

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 606

    Kukuh melangkah seorang diri menyusuri garis pantai.Bukan karena ketiadaan pendamping, melainkan kebutuhan mendesak untuk menyimak tanpa intervensi suara lain. Di ujung perkampungan ini, hamparan samudra menjadi satu-satunya ruang di mana deru ombak cukup masif untuk meredam hiruk-pikuk pikiran, sekaligus cukup tenang guna membiarkan sinyal-sinyal batin lain tertangkap oleh indranya.Mentari mulai tergelincir, mengubah bentangan langit dari pirus cerah menjadi tembaga menyala. Bayangan rona itu memantul di permukaan air, menyerupai cairan logam panas yang tumpah dan meruah. Di batas antara daratan dan buih, terbentang garis imajiner garis sakral yang pantang dilanggar, batas penghormatan yang dipatuhi warga selama turun-temurun.Kukuh berhenti tepat di ambang batas tersebut. Ia memaku pandangan ke arah samudra lepas.Karakter laut selatan berbeda dari perairan mana pun. Keunikannya bukan terletak pada spektrum warna ataupun keganasan ombaknya, melainkan massa bobotnya. Air itu terasa

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 5

    Siang itu, dapur utama kediaman keluarga Aji Saka terasa seperti perut neraka. Uap tebal beradu dengan aroma bumbu yang ditumis dalam suhu tinggi, membuat hawa menjadi sangat lembap dan lengket di kulit.Di tengah kekacauan sibuk itu, Kukuh dipaksa bekerja bagaikan kuli kasar. Ia harus memanggul ka

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 4

    Kres. Kres.Mata gunting rumput itu terus mengunyah dahan tanaman soka. Punggung Kukuh basah oleh keringat . Kontrak gila yang ia tandatangani kemarin kini menjadi kenyataan yang pahit. Di atas kertas triliunan rupiah itu ia adalah suami sang pewaris tahta, namun di atas rumput halaman ini, ia hany

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 3

    "Bagaimana keputusanmu?"Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya ber

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 2

    Kantor pusat Grup Aji Saka menempati lantai empat puluh tujuh. Nama gedungnya saja sudah cukup membuat nyali kaum rendahan ciut sebelum mereka berani melewati pintu putar lobi.Di dalam ruang direktur yang mewah, Adiwangsa berdiri kaku menghadap jendela selebar dinding . Melihat ibu kota Jakarta ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status