Share

Bab 483

Author: Millanova
last update publish date: 2026-09-26 00:04:17

Pagi itu, langit Jakarta masih kelabu.

Kukuh berdiri di pelataran belakang RS Lohitajaya. Tas ransel di punggungnya. Kemeja kerja sudah diganti dengan kaos hitam dan jaket tebal. Perban di lengannya sudah diganti tadi subuh oleh Manager Pratiwi. Luka bakarnya belum sembuh. Tapi sudah tidak berdarah. Dan itu sudah cukup.

"Mas Kukuh."

Manager Pratiwi muncul dari pintu belakang. Rambutnya diikat sederhana. Kemeja putihnya sudah diganti dengan kaos abu-abu dan jaket lapangan. Di tangannya, sebuah t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Tama Sq
dan kukuh pasti berhasil menemukan eyang amerta dn bisa mengalahkan bhanu.
goodnovel comment avatar
Tama Sq
2 bab aja nie thor, kentang thor,
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 490

    Sosok itu tersenyum. Senyum yang sangat tua. Sangat sabar. Sangat hangat."Duduklah, Nak Kukuh. Kau sudah berjalan sangat jauh."Kukuh menatap sosok di depannya. Menatap ukiran rajah putih yang menyala di seluruh tubuhnya. Menatap mata yang sangat dalam dan sangat tenang. Dan perlahan, Kukuh duduk. Bersila. Di lantai batu yang hangat."Kau Eyang Amerta?" tanya Kukuh.Sosok itu tidak menjawab. Hanya tersenyum. Dan kemudian wajahnya berubah.Bukan berubah seperti topeng yang dilepas. Bukan berubah seperti ilusi yang pudar. Berubah seperti cermin yang tiba-tiba memantulkan sesuatu yang berbeda. Dan di tempat sosok tua itu tadi duduk, kini duduk seseorang yang sangat Kukuh kenal.Dirinya sendiri.Kukuh membeku.Bayangan itu tersenyum. Senyum yang sama. Mata yang sama. Wajah yang sama. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Di mata bayangan itu, tidak ada api. Tidak ada tekad. Tidak ada alasan untuk terus berdiri.Hanya kelelahan."Halo, Kukuh," ucap bayangan itu. Suaranya sama. Persis sama. Tapi

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 489

    Perahu kecil itu meluncur masuk ke celah karang.Dinding batu di kedua sisi menjulang tinggi. Hitam. Basah. Berkilau oleh uap air yang terus mengepul dari celah-celah batu. Dan semakin dalam mereka masuk, semakin panas udara di sekitar mereka. Bukan panas matahari. Panas yang datang dari bawah. Dari dalam. Dari sesuatu yang sangat tua dan sangat besar yang sedang bernapas di perut bumi."Mas," ucap Manager Pratiwi. Suaranya terdengar berbeda di dalam celah ini. Bergema. Memantul di dinding batu. "Suhu udara naik. Sudah empat puluh tiga derajat."Kukuh mengangguk. Ia bisa merasakannya. Panas itu bukan hanya menyentuh kulit. Panas itu masuk. Menembus pori-pori. Menyentuh tulang. Dan di dadanya, liontin kamboja berdenyut. Lebih cepat dari sebelumnya. Bukan lemah. Bukan stabil. Cepat. Seperti jantung yang baru saja mendengar sesuatu yang sudah lama ia tunggu."Dokter Adhi," ucap Kukuh tanpa menoleh. "Bagaimana kondisi Bapak nelayan yang kita tolong?"Dokter Adhi yang duduk di buritan pera

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 488

    Dek kapal itu luas.Lantainya dilapisi baja yang sudah dipoles hingga mengkilap. Karpet merah membentang dari haluan ke buritan. Di kedua sisi, railing emas memantulkan cahaya matahari yang menembus kabut. Dan di tengah semua kemewahan itu, berdiri dua orang.Bima Kanaka Kencana di satu sisi. Kemeja sutra putihnya sudah digulung sampai siku. Jam tangan emasnya sudah dilepas, diletakkan di atas meja kecil di samping. Dan di kulitnya, ukiran rajah berwarna emas mulai berpendar. Dari leher. Dari bahu. Dari lengan. Mengalir seperti sungai emas yang baru saja menemukan jalannya.Kukuh di sisi lain. Kaos hitamnya masih basah oleh air laut. Perban di lengannya sudah diganti dengan kasa sederhana oleh Manager Pratiwi sebelum ia naik ke kapal. Dan di dadanya, liontin kamboja berdenyut. Pelan. Stabil. Seperti jantung kedua yang sudah belajar berdetak seirama dengan jantung pertamanya."Kyai Agus pernah bicara tentangmu," ucap Bima. Suaranya tidak lagi sombong. Tidak lagi meremehkan. Lebih berat

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 486

    Perahu kecil itu baru saja melewati celah karang terakhir ketika suara mesin terdengar dari balik kabut.Bukan mesin perahu nelayan. Bukan mesin kapal ikan. Mesin itu terdengar lebih berat. Lebih mahal. Lebih arogan. Dan di balik kabut belerang yang mulai menipis, muncul sebuah kapal.Bukan kapal biasa.Kapal itu berwarna hitam mengkilap. Lambungnya dilapisi baja dengan aksen emas di setiap sudutnya. Di haluan, terukir simbol yang sangat Kukuh kenal. Bukan simbol klan. Simbol perusahaan. Simbol konglomerasi.Kencana Group."Mas," bisik Manager Pratiwi. Suaranya tegang. Tangannya sudah bergerak ke saku jaketnya. Bukan mencari senjata. Mencari ponsel. "Itu kapal milik keluarga Kencana."Kukuh tidak menjawab. Matanya menatap kapal itu. Menatap deknya yang luas. Menatap lampu-lampu yang masih menyala meskipun hari masih pagi. Dan di dek itu, berdiri seseorang.Bima Kanaka Kencana.Pemuda itu mengenakan kemeja sutra putih yang tidak dikancingkan di tiga teratas. Celana panjangnya hitam, di

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 485

    Pratiwi berdiri beberapa langkah dari mereka. Dadanya naik turun. Rambutnya basah, menempel di wajahnya. Ia menatap Kukuh yang sedang duduk bersandar di dinding perahu, memeras air dari kaosnya."Mas sadar nggak sih apa yang baru saja Mas pertaruhkan?" suara Pratiwi bergetar, bukan karena dingin, tapi karena amarah dan ketakutan yang memuncak. "Kita kehilangan jalur air pasang! Kita terhenti di sini! Kalau Bhanu menyerang RS Lohitajaya malam ini, dan kita masih terjebak di laut ini karena Mas sibuk menyelamatkan satu orang asing... bagaimana Mas bisa mempertanggungjawabkannya pada Ratih? Pada pasien-pasien kita?!"Kukuh mengangkat wajahnya. Menatap Manager Pratiwi. Air laut menetes dari ujung rambutnya, jatuh ke lantai dek yang basah."Manager Pratiwi," ucap Kukuh. Suaranya serak, lelah, tapi tidak ada sedikit pun keraguan di dalamnya. "Kalau aku tidak bisa menyelamatkan satu orang di depanku, bagaimana aku bisa menyelamatkan dunia?"Pratiwi membeku.Kata-kata itu tidak diucapkan deng

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 484

    Ombak Selat Sunda menghantam lambung perahu fiber kecil itu dengan kasar.Langit di atas mereka kelabu pekat, menggantung rendah seperti atap chì yang siap runtuh. Angin membawa bau belerang yang begitu tajam hingga membuat tenggorokan terasa perih. Di kejauhan, silhouette Gunung Anak Krakatau berdiri seperti raksasa yang sedang tidur, sesekali memuntahkan asap hitam dari puncaknya."Hari kelima," ucap Manager Pratiwi, matanya tidak lepas dari layar tablet yang dilindungi plastik kedap air. "Dua puluh lima hari tersisa, Mas. Kalau kita tidak masuk ke celah kaldera sebelum air pasang sore ini, kita harus menunggu sampai besok pagi."Kukuh berdiri di haluan, mencengkeram tali tambat. Perban di balik jaketnya masih terasa ngilu, terutama saat angin laut yang lembap menyentuh luka bakar Rajah Geni yang belum tuntas sembuh."Tidak ada waktu untuk menunggu besok, Manager," sahut Kukuh. "Pak Bimo, percepat."Pak Bimo, nelayan lokal yang mereka sewa di Anyer, menggelengkan kepalanya sambil me

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 4

    Kres. Kres.Mata gunting rumput itu terus mengunyah dahan tanaman soka. Punggung Kukuh basah oleh keringat . Kontrak gila yang ia tandatangani kemarin kini menjadi kenyataan yang pahit. Di atas kertas triliunan rupiah itu ia adalah suami sang pewaris tahta, namun di atas rumput halaman ini, ia hany

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 3

    "Bagaimana keputusanmu?"Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya ber

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 2

    Kantor pusat Grup Aji Saka menempati lantai empat puluh tujuh. Nama gedungnya saja sudah cukup membuat nyali kaum rendahan ciut sebelum mereka berani melewati pintu putar lobi.Di dalam ruang direktur yang mewah, Adiwangsa berdiri kaku menghadap jendela selebar dinding . Melihat ibu kota Jakarta ya

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 1

    "Ini kegilaan."Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status