Vina melangkah masuk ke ruang kerja Emir dengan langkah yang ragu tapi penuh tekad. Matanya yang merah dan sedikit sembap menunjukkan malam-malam tanpa tidur yang dia lalui.“Mau apa lagi?” tanya Emir dingin, sekretarisnya mengatakan Vina datang untuk menemuinya.Vina langsung duduk di kursi seberang meja Emir. “Aku datang untuk melamar kerja, Mir,” suaranya lirih tapi memaksa agar didengar.Emir menatapnya dingin, ekspresinya tak berubah meski hatinya bergejolak. “Vina, kamu tahu aku bukan menolak karena kamu kakak almarhumah istriku. Tapi... kamu tidak punya kemampuan yang cukup,” ucap Emir pelan namun tegas, seolah mencoba menahan amarah yang tersimpan.Vina mengerutkan dahi, lalu menggigit bibir bawahnya. “Aku bisa, Mir. Aku kan pernah kuliah, aku nggak mau terus menganggur dan jadi beban kamu,” rengeknya dengan suara yang mulai bergetar.Tatapan Emir makin tajam, menilai kesungguhan sekaligus keraguan dalam dirinya. “Kamu mau jadi apa, Vina?” tanya Emir dengan nada serius.Vina m
Last Updated : 2026-06-14 Read more