“Alasan bodoh! Apa yang kau lihat di sana, Sasha? Kelemahan? Atau masa depan yang tidak sanggup kau tolak?”Suara William merambat di tengkuk Sasha, berat dan bergetar, saat jemarinya mulai mendaki perlahan dari lutut menuju paha Sasha.Sasha tersentak, mencoba menggeser duduknya, namun tangan William yang lain sudah lebih dulu mencengkeram sandaran kursi, mengurungnya. “Lepaskan tanganmu, William. Kita sedang di kantor.”“Kantor ini milikku. Semua yang ada di gedung ini bernapas atas izinku. Termasuk kau,” bisik William. William menarik kursi Sasha hingga mereka berhadapan begitu dekat. “Aku mau bertanya ulang. Jawab pertanyaanku. Semalam, kenapa kau memperhatikan aku tidur?”“Aku hanya... aku merasa asing melihatmu setenang itu,” jawab Sasha parau, mencoba memalingkan wajah. “Kau terlihat seperti manusia biasa saat tidur, bukan monster yang terobsesi pada kendali.”William terkekeh sinis, jemarinya berhenti tepat di batas rok Sasha. “Monster? Kalau aku monster, kau tidak akan duduk
Baca selengkapnya