Share

bab 153

Author: Azzura Rei
last update publish date: 2026-03-31 22:48:18

Sasha mengikuti langkah lebar William keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang berkecamuk. Lorong gedung fakultas yang sepi di sore hari itu terasa begitu panjang. Setiap langkah kaki William yang terburu-buru seolah-olah sedang mengejar waktu yang hilang selama lima tahun, sekaligus melarikan diri dari ketegangan intim yang baru saja meledak di antara mereka.

Di dalam lift, keheningan kembali menyergap. William berdiri tegak, menatap angka-angka yang bergerak turun di layar digital dengan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 303

    Ketika William dan Arlan keluar dari kamar dengan handuk di leher masing-masing, aroma harum kopi hitam yang baru diseduh dan gurihnya mentega dari dapur sudah memenuhi seisi rumah. Sasha rupanya sudah bangun dan kini sedang sibuk membalik telur mata sapi di atas wajan, mengenakan daster rumahan yang sederhana namun tetap terlihat cantik di mata William."Pagi, Sayang," sapa Sasha tanpa menoleh, namun senyumannya sudah mengembang mendengar derap langkah kaki suaminya."Pagi," balas William. Ia melangkah mendekat, melingkarkan lengannya di pinggang Sasha dari belakang dan mengecup pipi istrinya yang masih terasa hangat. "Kamu bangun cepat sekali. Padahal semalam kita tidur larut.""Aku tidak bisa tidur lagi setelah mendengar suara Arlan bersorak tentang robotnya," goda Sasha, menyenggol pelan dada William dengan sikutnya. "Sana, mandikan Arlan dulu. Sarapan siap sepuluh menit lagi."“Kamu mau daftar aku mandikan juga?” bisik William membuat Sasha meremang.Sasha mencubit lengan William

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 302

    Air mata kebahagiaan yang sejak tadi tertahan di sudut mata Sasha akhirnya luruh juga. Ia mengusap air mata itu dengan cepat, lalu mengangguk kuat. "Dan aku, Sasha, wanita paling beruntung karena memiliki pria sehebat kamu sebagai pelindungku dan Arlan."William merebahkan tubuhnya di atas kasur, menarik Sasha ikut serta ke dalam dekapannya. Mereka berbaring miring, saling berhadapan di bawah selimut tebal yang hangat. Tangan William merengkuh pinggang Sasha, memastikan tubuh istrinya benar-benar melekat di dadanya, sementara satu kakinya melingkari kaki Sasha, mengunci posisi mereka dalam sebuah pelukan yang tak tergoyahkan.Sasha menyembunyikan wajahnya di ceruk leher William, menikmati detak nadi suaminya yang berdenyut konstan di kulitnya. Jari-jemari mungilnya menggambar pola abstrak tanpa arah di atas dada bidang William yang terbalut kaus hitam, sebuah gerakan natural yang biasa ia lakukan sebelum terlelap."Besok pagi... apa yang harus kukatakan pada Kirana tentang pesan vend

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   301

    William mengambil alih sisir kayu itu dari jemari Sasha dengan gerakan yang teramat konstan dan hati-hati. Keheningan kamar tidur mereka malam itu terasa begitu intim, hanya diiringi oleh deru halus pendingin ruangan dan gesekan lembut gerigi sisir yang membelah rambut hitam panjang Sasha yang sewangi aroma teh melati.Sasha membiarkan tubuhnya sedikit rileks, menyandarkan punggungnya pada dada bidang William. Ia bisa merasakan kehangatan yang menjalar dari kaus dalam hitam yang dikenakan suaminya, serta debar jantung William yang kini berdetak dalam ritme yang jauh lebih tenang dibandingkan beberapa jam yang lalu saat berada di restoran privat."Kamu masih memikirkan pembicaraan dengan Papa tadi?" tanya Sasha pelan, matanya menatap pantulan diri mereka di cermin besar lemari jati di hadapan mereka.William tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan satu tarikan sisir terakhir dari puncak kepala Sasha hingga ke ujung rambut, lalu meletakkan benda kayu itu di atas nakas. Kedua lengan ke

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 300

    William menghentikan gerakan sendoknya sejenak. Ia menatap ayahnya, menilai kesungguhan di balik kalimat tersebut. "Bagus. Aku menghargai profesionalisme Papa kali ini. Hari Senin depan aku akan mulai melakukan kunjungan lapangan pertama ke lokasi proyek.""Aku tidak meragukan kapasitas analisismu, Nak," ujar Aditama, menggunakan kata 'Nak' dengan nada yang sangat hati-hati, seolah takut kata itu akan memicu penolakan kembali dari putranya. Namun, William memilih untuk membiarkannya lewat begitu saja tanpa protes.Jamuan malam itu akhirnya selesai saat jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Hujan gerimis di luar telah mereda, menyisakan hawa sejuk yang menyegarkan udara malam. Ketika mereka semua berdiri di selasar luar restoran untuk berpamitan, Kirana langsung memeluk Sasha dengan erat."Mbak Sasha, sampai ketemu minggu depan, ya! Kita harus meluangkan waktu berdua untuk fitting kebaya putihnya. Aku mau lihat Mbak Sasha jadi pengantin paling cantik di pelataran hijau nanti," bi

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 299

    Setelah badai ketegangan itu mereda, atmosfer di dalam ruangan privat tersebut perlahan-lahan kembali menemukan ritme yang lebih manusiawi. Desi, yang sejak tadi duduk mendampingi Aditama, menarik napas dalam-dalam.Meskipun kalimat pembuka tentang prosesi siraman dan kehadiran adik-adik tirinya Nadia dan Nadin sempat memicu penolakan keras dari William, wanita itu memilih untuk tidak memperkeruh suasana. Sebagai seorang istri yang paham betul posisi rumitnya di tengah pusaran trauma masa lalu William, Desi menunjukkan kedewasaan dengan memberikan anggukan kecil penuh pengertian ke arah Sasha. Wanita itu jelas sudah Aditama Briefing agar tidak berbuat yang aneh aneh ketika bertemu William. "Jika itu bisa membuat hari bahagia kalian berjalan dengan tenang, Tante tidak keberatan, Liam," ujar Desi dengan suara yang tenang, memposisikan dirinya dengan bijak tanpa nada tersinggung. "Yang terpenting bagi kami adalah melihat kalian bahagia."William tidak membalas kalimat Desi. Ia hanya mer

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 298 Desi Kirana

    Kirana menoleh ke arah William, mendapati tatapan beku dari sang kakak. Alih-alih merasa terintimidasi atau sakit hati seperti kebanyakan orang yang menghadapi kedisipilan William, gadis yang sempat mengenyam pendidikan di Australia itu justru melebarkan senyumannya. Ia sangat memahami karakter kakaknya yang terluka oleh masa lalu. Baginya, sikap dingin William jauh lebih baik daripada kemarahan yang meledak-ledak. Setidaknya, William bersedia duduk di satu meja dengannya malam ini, dan sejak kepulangannya dari Ausy, Kirana memang mendambakan hubungan persaudaraan yang nyata."Mas Liam masih hobi pasang muka dosen penguji, ya," canda Kirana tanpa beban sambil mengambil tempat duduk di seberang William, tepat di samping Aditama yang kini sudah duduk dengan tenang. "Tapi enggak apa-apa, aku tahu Mas Liam sebenarnya senang aku datang, kan?"William tidak menyahut gurauan adiknya. Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap Aditama dan istri baru ayahnya bergantian sebelum akhirnya membuka s

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 114

    "Sudah… hampir dua minggu, Nak.”Dunia Sasha seperti berhenti berputar. Dua minggu bukan keterlambatan biasa. Ia jadi berpikir yang tidak tidak tentang ayahnya. “Itu nggak mungkin…” bisik Sasha, napasnya mulai tidak teratur. “Ayah nggak mungkin lupa selama itu…”Pikirannya langsung melompat ke kem

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 83

    Sasha menatap memo itu dengan tangan yang sedikit gemetar, namun segera ia remas hingga tak berbentuk. Di atas meja makan yang luas itu, sarapan mewah telah tersaji telur benedict, buah-buahan segar, dan kopi hitam pekat yang aromanya memenuhi ruangan. Namun, seleranya telah mati. Ia merasa seperti

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 78

    Sorak-sorai dan siulan menggema di ruangan luas itu, memantul di antara dinding marmer dan koleksi minuman keras mahal yang berjajar rapi. Sasha bisa merasakan panas yang menjalar di pipinya, bukan karena malu yang murni, melainkan karena percampuran antara penghinaan dan adrenalin yang memabukkan.

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 76

    Fajar menyingsing di cakrawala Jakarta, membawa semburat warna jingga yang membasuh kaca-kaca gedung pencakar langit. Di dalam penthouse mewah itu, cahaya matahari mulai menyelinap masuk melalui celah gorden sutra, menerangi sisa-sisa pergulatan panas semalam. Sasha terbangun dengan rasa pegal yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status