LOGINDari kejauhan William menonton drama diseretnya Clarissa. Tepat di sisinya, Sasha diminta melihat dengan seksama bagaimana hukum berjalan untuk orang licik seperti Clarissa dan keluarganya.“Kamu kasihan?” tanya William lagi.Sasha hanya menatap tanpa kedip, jemari diletakkan di bawah dagu. Dia tampak melihatnya dengan serius.William mengusap pipi Sasha, membuat Sasha kaget dan langsung menurunkan tangannya. “Tadinya aku ingin menghukumya dengan sesuatu yang lebih pantas, tapi sepertinya tidak perlu. Ada kamu di sini yang harus siap menggantikan hukumannya,” ujar William yang langsung menarik Sasha dalam pangkuan.“A-pa yang kamu lakukan?” tanya Sasha terkejut.“Kamu bukan orang bodoh yang tak tahu bagaimana cara dosenmu ini menghukum muridnya yang licik kan?”William menarik tangan Sasha agar menyentuh dadanya yang bidang. Napas Sasha mendadak memburu, dia tahu maksud William kali ini.“Kita di kantor, Pakl. Apa tidak bisa kita melakukan hanya jika di rumah saja?”Bukannya menjawab
"Pagi semua …”“Pagi, Mbak Clarissa,” balas karyawan yang menatap Clarissa dengan heran pagi ini datang ke kantor.Matahari baru saja melewati puncaknya saat Clarissa melangkah masuk ke lobi utama kantor William dengan dagu terangkat tinggi. Ia mengenakan blus sutra berwarna krem dan kacamata hitam yang menutupi tatapan liciknya.Namun, suasana di lobi terasa berbeda. Para staf yang biasanya menunduk hormat kini saling berbisik, melemparkan pandangan yang sulit diartikan antara kasihan dan cemoohan.Clarissa mengabaikan mereka. Ia menyapa yang masih mau disapa dan melangkah menuju lift eksekutif, namun saat ia menempelkan kartu aksesnya, mesin itu mengeluarkan bunyi merah yang nyaring. Gagal."Sial, kenapa gini ? Apa benda ini rusak," gerutunya. Ia mencoba lagi. Hasilnya sama."Permisi, Ibu Clarissa."Clarissa berbalik dengan cepat, siap menyemprot siapapun yang berani mengganggunya. Di hadapannya berdiri Hendri, asisten tangan kanan William, didampingi oleh dua petugas keamanan bertu
"Hendri, masuk ke ruanganku. Sekarang," perintah William singkat.Hanya dalam hitungan detik, Hendri sudah berdiri di ambang pintu. Ia sempat melirik sekilas ke arah Sasha yang tampak sedikit berantakan, lalu dengan cepat menundukkan kepala, menjaga profesionalitasnya."Ya, Pak William?"William menyandarkan punggungnya, matanya menatap tajam ke arah Hendri dengan binar yang dingin.“Ada kabar terbaru tentang benalu itu?”“Sejauh ini, mereka belum ada pergerakan serius.”"Baiklah, tapi aku tidak akan diam saja. Aku tidak ingin melihat ada duri dalam daging lagi di perusahaan ini. Clarissa. Urus surat pemecatannya hari ini juga. Aku ingin dia keluar dari gedung ini sebelum jam kantor berakhir," ujar William tanpa basa-basi.Sasha kaget dan sedikit terkejut. “Apa perlu dinotice lebih dulu?”"Tidak usah,” potong William tajam. "Putuskan semua aksesnya ke sistem perusahaan. Aku tidak peduli. Keberadaannya di sini hanya akan menjadi polusi. Dan satu lagi..."William menjeda kalimatnya,
"Tolonglah, Pak! Tolong izinkan saya ketemu anak saya. Saya yakin, dia memaafkan saya dan bisa membantu saya membujuk William.”Bram tidak pulang ke rumah beberapa hari ini, dia memilih terus membujuk Hendri agar mau memaafkannya. Ditambah, keberadaan Lastri yang sudah pindah dari kampung membuat Bram tak ada pilihan lagi. Kembali mengemis iba pada William.“Sudah saya katakan, Pak William gak akan mengubah keputusan yang dia ambil. Apalagi pada seorang penipu seperti mu!”Hendri memilih pergi dari sana. Bram bukanlah orang penting yang harus dia temui. William mengatakan padanya jika Bram datang maka jangan pernah memberinya maaf karena saat ini, Bram tengah dihukum atas semua kebohongan nya. Hendri menemui William di jam makan siang. Dia mengetuk pintu perlahan dan William pun memintanya masuk. Di sana, ruangan tampak senyap. Tak ada Sasha seperti yang seharusnya dilihat Hendri.“Kenapa?” tanya William tanpa menoleh.“Dia ke sini lagi. Meminta maaf dan memohon izin bertemu Sasha. A
"Aku bisa membantumu bebas, Raka. Tapi ada syaratnya.”Clarisa mendatangi kantor polisi, dia berniat membebaskan kembali Raka agar bisa membantunya membuat William memberikan semua yang dia mau.“Aku sudah malah berurusan dengan wanita licik sepertimu. Dulu saja waktu kita berurusan dengan Pak William, kamu tak membelaku dan kamu bebas sendirian tanpa memikirkan aku. Sekarang kamu harap aku membantumu? Jangan harap!” berang Raka.“Tapi Sasha sudah kembali dan dia tak mati. Dia kembali denban anak Pak William. Kamu bisa membujuknya agar mau kembali dengan mu. Bukankah kamu masih mencintai Sasha?”Clarisa tersenyum simpul, menyadari bahwa umpan yang ia lemparkan tepat mengenai sasaran. Rahang Raka yang semula mengeras kini tampak sedikit mengendur, meski sorot matanya masih dipenuhi kebencian."Sasha... masih hidup?" bisik Raka. Suaranya serak, seolah kata-kata itu adalah sesuatu yang mustahil."Dia lebih dari sekadar hidup, Raka. Dia kembali dengan membawa 'kunci' untuk menghancurkan p
“Ini semua gara gara Sasha.”Clarisa benar benar muak dengan drama Sasha yang kembali menghantui. Dia dan Raka yang pernah berkasus saja usai setelah berita kematian Sasha. Kini, Sasha kembali dan dia dalam masalah besar. Pekerjaan yang digadang-gadang bisa membuatnya kembali naik pamor, kembali terguncang dengan kabar itu. “Pulang cepet, Cla?” tanya Linda.“Ini semua gara gara anak Papa yang kurang ajar itu. Gak nyangka banget dia muncul di kantor dan bikin semuanya kacau.”“Sasha ada di sana? Kamu yakin gak salah lihat?” tanya Linda kaget dan langsung mendekat untuk memastikan yang dilihat anaknya benar benar Sasha. “Gak, Ma. Siapa lagi yang berani terang-terangan muncul dengan Pak William kalau bukan si pelacur kecil itu? Sialan!!”"Mama nggak tahu betapa sombongnya dia tadi," desis Clarisa sembari melempar tas bermereknya ke atas sofa beludru hingga benda itu terjatuh ke lantai. Napasnya memburu, matanya berkilat penuh kebencian. "Dia berdiri di samping Pak William seolah-olah d
"Halo, Jagoan. Sudah merasa lebih baik?"“Lumayan, Om sepatu kaca juga baik kah? Kata Mama, Om juga sakit!”“Sepertinya mama kamu salah, Om baik baik saja. Kamu lihat sendiri. Om sehat kan? Bahkan Om bawa hadiah buat kamu.”Mata Arlan membelalak melihat mainan itu. "Wah! Ini untuk Arlan, Om?""Tent
"Kemiskinan bukan alasan untuk merampas seorang anak dari ibunya!” suara Sasha bergetar, tertahan di antara isak tangis yang mulai pecah. Ia berdiri tegak, meski kakinya terasa seperti jeli di hadapan tatapan tajam William yang menghunjam.William tersenyum menang, sebuah suara penuh amarah yang me
Prosedur transplantasi pada Arlan sedang berjalan, Pak William. Anda harus istirahat," ujar seorang perawat.Namun, William bukanlah pria yang mudah diperintah. Dengan keras kepala, ia meminta kursi roda. Ia menolak untuk tetap berbaring sementara ada sebuah nyawa yang kini membawa bagian dari diri
Sasha mengikuti langkah lebar William keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang berkecamuk. Lorong gedung fakultas yang sepi di sore hari itu terasa begitu panjang. Setiap langkah kaki William yang terburu-buru seolah-olah sedang mengejar waktu yang hilang selama lima tahun, sekaligus melarikan







