MasukSuara bariton Raka di seberang telepon terdengar begitu renyah, seolah-olah ia sedang menikmati segelas wine mahal di balik meja kerjanya yang mewah, sementara Clarissa harus meringkuk di atas kasur apek yang berbau keringat dan keputusasaan."Galak sekali, Clarissa. Baru pulang 'bertugas'?" Raka terkekeh, suara yang bagi Clarissa terdengar seperti gesekan pisau pada piring porselen."Bukan urusanmu. Kalau kau hanya ingin mengejekku, tutup teleponnya. Aku sedang tidak punya energi untuk meladeni kesombonganmu," ketus Clarissa sembari memijat pelipisnya yang berdenyut hebat akibat efek alkohol murah."Mengejek? Oh, Clarissa... kau sungguh tega menuduhku begitu," nada suara Raka berubah melunak, penuh drama keprihatinan yang dipoles sedemikian rupa. "Tidakkah kau ingat siapa yang datang ke kantor polisi malam itu? Saat William menjebloskanmu ke sel yang dingin dan menjijikkan itu? Siapa yang merogoh kocek dalam-dalam untuk membayar jaminanmu agar kau tidak membusuk di sana?" Ketus Clar
Langkah kaki Clarissa terasa berat dan goyah saat ia menyusuri lorong sempit menuju kontrakan mereka yang pengap. Bau alkohol yang tajam menguar dari pakaian dan napasnya, bercampur dengan aroma parfum pria yang masih menempel samar di ceruk lehernya. Kepalanya berdenyut hebat, seolah-olah ada palu godam yang menghantam dinding tengkoraknya setiap kali ia melangkah.Dunia di sekitarnya tampak berputar. Kemarahan, rasa malu, dan kelelahan fisik melebur menjadi satu dalam kabut mabuk yang membuatnya nyaris terjatuh saat menaiki anak tangga kayu yang mulai lapuk.Pintu terbuka sebelum Clarissa sempat merogoh kunci. Di ambang pintu, berdiri Linda dengan wajah yang mengeras. Tidak ada lagi sisa-sisa kemewahan pada wanita itu, hanya ada daster lusuh dan guratan kebencian yang mendalam pada nasib yang menimpa mereka."Bagus. Pulang pagi lagi dalam keadaan seperti sampah," sapa Linda dingin, suaranya setajam silet yang menyayat keheningan malam.Clarissa hanya menyeringai tipis, sebuah ekspre
"Ah…”“Lebih cepat, Sayang….”Suara ranjang yang berdecit dan hembusan napas begitu terasa. Dua insan sedang memadu kasih. Clarissa dan tentunya, lelaki yang sudah membayar nya. Keringat dingin membasahi pelipis Clarissa saat ia memejamkan mata rapat-rapat. Di balik kelopak matanya, ia tidak melihat wajah lelaki yang kini bersamanya, melainkan tumpukan tagihan rumah sakit dan bayangan masa depan yang terasa kian menjauh.Setiap derit ranjang tua di kamar remang-remang itu seolah menghitung mundur harga diri yang ia gadaikan. Clarissa mencengkeram sprei yang terasa kasar di bawah jemarinya, mencoba menulikan rungu dari suara napas berat sang pria yang memburu di telinganya. Bagi lelaki itu, ini adalah kesenangan yang dibayar tunai; bagi Clarissa, ini adalah cara paling menyakitkan untuk tetap bertahan hidup. Padahal, dulu dia mencibir Sasha karena melakukan pekerjaan ini tapi sekarang justru dia yang akhirnya harus melakukannya demi bisa bertahan hidup."Bagus... seperti itu," bisik
Aku gak peduli, aku hanya ingin Sasha.”William melepaskan cengkeramannya di pinggang Sasha, beralih mencengkeram kerah safari Raka dengan satu tangan. Ia menarik pria itu hingga berdiri paksa, menatap langsung ke mata Raka yang penuh dengan tipu daya.“Kau bicara soal pulang, Raka?” desis William, suaranya seperti gesekan logam. “Ke mana? Ke lubang persembunyianmu di mana kau merencanakan pengkhianatan berikutnya? Jangan berlagak jadi pahlawan di depanku. Kita berdua tahu siapa kau sebenarnya.”William mengempaskan Raka hingga punggung pria itu menghantam pintu kayu jati. “Sasha tahu apa yang kau lakukan. Dia tahu setiap sen yang kau curi dan setiap nyawa yang kau korbankan untuk ambisimu. Keluar dari sini sebelum aku kehilangan kesabaran dan membuatmu menyesal pernah menghirup udara bebas.”Raka menyeka sudut bibirnya, seringai tipis muncul di wajahnya yang licik. Ia tidak terlihat hancur; ia justru terlihat sedang menikmati permainan ini. Ia melirik Sasha, yang kini berdiri gemetar
William kemudian menunduk, menatap Sasha dengan mata yang seolah memohon sekaligus mengancam. “Katakan padanya, Sasha. Katakan bahwa kau bahagia di sini. Katakan bahwa kau tidak ingin pergi ke mana-mana.”Sasha mematung. Ia menatap Raka dan berharap peluangnya untuk bebas lalu ia menatap William. Di mata William, ia melihat kegelapan yang sama dengan malam tadi, namun kali ini bercampur dengan keputusasaan yang nyata. Jika ia berkata ia ingin pergi sekarang, William mungkin akan menghancurkan segalanya termasuk Raka, termasuk dirinya sendiri, dan mungkin... masa depan Arlan.Lidahnya terasa kelu. Kebenaran yang pahit adalah: William telah membangun jaring yang begitu kuat sehingga meskipun pintunya terbuka lebar, Sasha tidak tahu ke mana ia harus lari tanpa menyebabkan kehancuran bagi orang-orang di sekitarnya.“Saya...” suara Sasha bergetar.William mencengkeram pinggang Sasha sedikit lebih keras, sebuah peringatan bisu.“Saya di sini atas kemauan saya sendiri, Raka,” ucap SashaDu
William sudah menunggunya di ujung tangga. Pria itu kembali mengenakan setelan jas tiga lapis yang sempurna. Tak ada jejak kerentanan dari malam sebelumnya. Wajahnya kembali dingin, otoriter, dan tak tersentuh.“Kau tepat waktu,” ujar William singkat. Ia mengulurkan tangannya, sebuah isyarat yang tidak memberikan pilihan bagi Sasha selain menyambutnya.Sasha meletakkan tangannya di atas telapak tangan William. Pria itu langsung menggenggamnya erat, seolah takut jika ia melonggarkan pegangannya satu inci saja, Sasha akan menguap menjadi asap.“Mari kita berangkat. Mobil sudah menunggu,” lanjut William.“Arlan?”“Dia sudah berangkat sejak tadi.”“Kok nggak nunggu?” tanya Sasha sedikit kesal tidak bertemu Arlan pagi ini.“Nanti kamu juga ketemu, ayo! Sudah siang!”Sasha mendengus, sebenarnya dia tak suka diperlakukan seperti ini. Perjalanan menuju kantor berlangsung dalam keheningan yang menyesakkan. Sasha menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung Jakarta yang menjulang tinggi, menya
William sudah menunggunya di ruang makan. Di atas meja, terdapat hidangan makan malam mewah yang belum disentuh. William sedang menyesap wiski, memutar-mutar gelasnya sambil menatap kegelapan di balik jendela."Bagaimana pemandangan di kampus hari ini?" tanya William tanpa menoleh."Memuaskan, Pak,
Beberapa hari neneknya tinggal di rumah yang William siapkan , sebuah paket kabar tiba dari kwluarga Sasha. Kabar itu tidak datang melalui pesan singkat atau panggilan telepon penuh air mata, melainkan melalui laporan singkat dari Hendra yang diserahkan di dalam mobil."Ayah dan Ibu anda sudah dala
"Sasha?"Sasha membeku. Suara itu. Ia menoleh dan menemukan sosok dari masa lalunya—sebelum William, sebelum karaoke, sebelum kegelapan ini dimulai. Itu adalah Rio, mantan kekasihnya saat SMA yang kini tampak rapi dengan kemeja flanel sederhana."Rio?""Ya ampun, benar itu kamu! Aku dengar kamu kul
Sasha menatap memo itu dengan tangan yang sedikit gemetar, namun segera ia remas hingga tak berbentuk. Di atas meja makan yang luas itu, sarapan mewah telah tersaji telur benedict, buah-buahan segar, dan kopi hitam pekat yang aromanya memenuhi ruangan. Namun, seleranya telah mati. Ia merasa seperti







