ログインWilliam dan Sasha menyusul turun. William segera menghirup napas dalam-dalam, menikmati pasokan oksigen murni yang begitu menyegarkan rongga dadanya, sangat berbeda dengan polusi udara pusat kota yang sehari-hari ia hirup."Bagaimana, Will? Sesuai dengan ekspektasimu?" tanya Sasha, berdiri di samping suaminya sambil bersedekap menahan angin pagi yang berembus cukup kencang."Lebih dari ekspektasi," jawab William jujur. Matanya yang tajam langsung memetakan area tersebut dari sudut pandang bisnis dan estetika. "Struktur tanahnya bagus, drainase alaminya juga sepertinya bekerja dengan baik karena tidak ada genangan air padahal semalam hujan. Kirana benar-benar menemukan permata tersembunyi."Kirana berjalan mendekati mereka setelah memastikan Arlan asyik bermain rumput di bawah pengawasan penjaga lahan yang tadi ikut menyusul ke dalam. "Pak William, ini beberapa dokumen izin pemakaian eksklusif untuk hari H nanti, dan ini sketsa tata letak panggung serta area katering yang sempat saya d
Hari Sabtu yang dinanti akhirnya tiba. Udara pagi itu masih terasa sangat dingin ketika jarum jam baru menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit. Di garasi, William sudah selesai memasukkan koper kecil berisi pakaian ganti, beberapa botol air mineral, dan tentu saja, kotak mainan besar milik Arlan ke dalam bagasi mobil SUV hitamnya.Sasha keluar dari pintu dapur sambil membawa sebuah tote bag kain berukuran besar yang aroma isinya langsung tercium ke mana-mana."Wangi sekali. Kamu membuat bekal apa?" tanya William, menutup pintu bagasi dengan bunyi debuman yang mantap. Ia menghampiri istrinya, mengambil alih tas berat tersebut dari tangan Sasha."Nasi goreng mentega kesukaanmu, lengkap dengan sosis dan telur gulung untuk Arlan. Ditambah kopi di dalam thermos kecil," jawab Sasha sembari merapikan outer rajut berwarna krem yang dipadukannya dengan celana jin santai. Penampilannya pagi ini tampak segar, dengan rambut yang dicepol asal namun menyisakan beberapa anak rambut di tengku
Ketika William dan Arlan keluar dari kamar dengan handuk di leher masing-masing, aroma harum kopi hitam yang baru diseduh dan gurihnya mentega dari dapur sudah memenuhi seisi rumah. Sasha rupanya sudah bangun dan kini sedang sibuk membalik telur mata sapi di atas wajan, mengenakan daster rumahan yang sederhana namun tetap terlihat cantik di mata William."Pagi, Sayang," sapa Sasha tanpa menoleh, namun senyumannya sudah mengembang mendengar derap langkah kaki suaminya."Pagi," balas William. Ia melangkah mendekat, melingkarkan lengannya di pinggang Sasha dari belakang dan mengecup pipi istrinya yang masih terasa hangat. "Kamu bangun cepat sekali. Padahal semalam kita tidur larut.""Aku tidak bisa tidur lagi setelah mendengar suara Arlan bersorak tentang robotnya," goda Sasha, menyenggol pelan dada William dengan sikutnya. "Sana, mandikan Arlan dulu. Sarapan siap sepuluh menit lagi."“Kamu mau daftar aku mandikan juga?” bisik William membuat Sasha meremang.Sasha mencubit lengan William
Air mata kebahagiaan yang sejak tadi tertahan di sudut mata Sasha akhirnya luruh juga. Ia mengusap air mata itu dengan cepat, lalu mengangguk kuat. "Dan aku, Sasha, wanita paling beruntung karena memiliki pria sehebat kamu sebagai pelindungku dan Arlan."William merebahkan tubuhnya di atas kasur, menarik Sasha ikut serta ke dalam dekapannya. Mereka berbaring miring, saling berhadapan di bawah selimut tebal yang hangat. Tangan William merengkuh pinggang Sasha, memastikan tubuh istrinya benar-benar melekat di dadanya, sementara satu kakinya melingkari kaki Sasha, mengunci posisi mereka dalam sebuah pelukan yang tak tergoyahkan.Sasha menyembunyikan wajahnya di ceruk leher William, menikmati detak nadi suaminya yang berdenyut konstan di kulitnya. Jari-jemari mungilnya menggambar pola abstrak tanpa arah di atas dada bidang William yang terbalut kaus hitam, sebuah gerakan natural yang biasa ia lakukan sebelum terlelap."Besok pagi... apa yang harus kukatakan pada Kirana tentang pesan vend
William mengambil alih sisir kayu itu dari jemari Sasha dengan gerakan yang teramat konstan dan hati-hati. Keheningan kamar tidur mereka malam itu terasa begitu intim, hanya diiringi oleh deru halus pendingin ruangan dan gesekan lembut gerigi sisir yang membelah rambut hitam panjang Sasha yang sewangi aroma teh melati.Sasha membiarkan tubuhnya sedikit rileks, menyandarkan punggungnya pada dada bidang William. Ia bisa merasakan kehangatan yang menjalar dari kaus dalam hitam yang dikenakan suaminya, serta debar jantung William yang kini berdetak dalam ritme yang jauh lebih tenang dibandingkan beberapa jam yang lalu saat berada di restoran privat."Kamu masih memikirkan pembicaraan dengan Papa tadi?" tanya Sasha pelan, matanya menatap pantulan diri mereka di cermin besar lemari jati di hadapan mereka.William tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan satu tarikan sisir terakhir dari puncak kepala Sasha hingga ke ujung rambut, lalu meletakkan benda kayu itu di atas nakas. Kedua lengan ke
William menghentikan gerakan sendoknya sejenak. Ia menatap ayahnya, menilai kesungguhan di balik kalimat tersebut. "Bagus. Aku menghargai profesionalisme Papa kali ini. Hari Senin depan aku akan mulai melakukan kunjungan lapangan pertama ke lokasi proyek.""Aku tidak meragukan kapasitas analisismu, Nak," ujar Aditama, menggunakan kata 'Nak' dengan nada yang sangat hati-hati, seolah takut kata itu akan memicu penolakan kembali dari putranya. Namun, William memilih untuk membiarkannya lewat begitu saja tanpa protes.Jamuan malam itu akhirnya selesai saat jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Hujan gerimis di luar telah mereda, menyisakan hawa sejuk yang menyegarkan udara malam. Ketika mereka semua berdiri di selasar luar restoran untuk berpamitan, Kirana langsung memeluk Sasha dengan erat."Mbak Sasha, sampai ketemu minggu depan, ya! Kita harus meluangkan waktu berdua untuk fitting kebaya putihnya. Aku mau lihat Mbak Sasha jadi pengantin paling cantik di pelataran hijau nanti," bi
"Mama? Apa yang terjadi? Kenapa apartemenku disegel?!" Clarissa berteriak histeris, mencoba menerobos petugas yang masih berjaga."Clarissa, berhenti!" Linda menarik lengan putrinya dengan kasar. "Kita harus pergi. Sekarang.""Pergi? Ini rumahku! Papa yang membelikannya untukku! Ini hadiah dari Pak
William tidak menoleh lagi. Pintu ambulans tertutup, memisahkan kehangatan pelukan Arlan dari dinginnya amarah yang masih berdesir di nadinya. Di dalam ruang medis yang sempit itu, Arlan akhirnya tertidur karena syok dan kelelahan, sementara petugas medis sibuk mengobati luka bakar di telapak tanga
Mobil sport William tidak lagi meluncur, ia terbang rendah. Jarum speedometer menyentuh angka 180 km/jam, meliuk di antara truk-truk kontainer menuju kawasan pelabuhan mati. Di sampingnya, pistol yang ia simpan di laci tersembunyi sudah berada di pinggang. "Tuan! Bram masuk ke area pengolahan limb
Dari kejauhan William menonton drama diseretnya Clarissa. Tepat di sisinya, Sasha diminta melihat dengan seksama bagaimana hukum berjalan untuk orang licik seperti Clarissa dan keluarganya.“Kamu kasihan?” tanya William lagi.Sasha hanya menatap tanpa kedip, jemari diletakkan di bawah dagu. Dia tam







