LOGIN"Hendri, masuk ke ruanganku. Sekarang," perintah William singkat.Hanya dalam hitungan detik, Hendri sudah berdiri di ambang pintu. Ia sempat melirik sekilas ke arah Sasha yang tampak sedikit berantakan, lalu dengan cepat menundukkan kepala, menjaga profesionalitasnya."Ya, Pak William?"William menyandarkan punggungnya, matanya menatap tajam ke arah Hendri dengan binar yang dingin.“Ada kabar terbaru tentang benalu itu?”“Sejauh ini, mereka belum ada pergerakan serius.”"Baiklah, tapi aku tidak akan diam saja. Aku tidak ingin melihat ada duri dalam daging lagi di perusahaan ini. Clarissa. Urus surat pemecatannya hari ini juga. Aku ingin dia keluar dari gedung ini sebelum jam kantor berakhir," ujar William tanpa basa-basi.Sasha kaget dan sedikit terkejut. “Apa perlu dinotice lebih dulu?”"Tidak usah,” potong William tajam. "Putuskan semua aksesnya ke sistem perusahaan. Aku tidak peduli. Keberadaannya di sini hanya akan menjadi polusi. Dan satu lagi..."William menjeda kalimatnya,
"Tolonglah, Pak! Tolong izinkan saya ketemu anak saya. Saya yakin, dia memaafkan saya dan bisa membantu saya membujuk William.”Bram tidak pulang ke rumah beberapa hari ini, dia memilih terus membujuk Hendri agar mau memaafkannya. Ditambah, keberadaan Lastri yang sudah pindah dari kampung membuat Bram tak ada pilihan lagi. Kembali mengemis iba pada William.“Sudah saya katakan, Pak William gak akan mengubah keputusan yang dia ambil. Apalagi pada seorang penipu seperti mu!”Hendri memilih pergi dari sana. Bram bukanlah orang penting yang harus dia temui. William mengatakan padanya jika Bram datang maka jangan pernah memberinya maaf karena saat ini, Bram tengah dihukum atas semua kebohongan nya. Hendri menemui William di jam makan siang. Dia mengetuk pintu perlahan dan William pun memintanya masuk. Di sana, ruangan tampak senyap. Tak ada Sasha seperti yang seharusnya dilihat Hendri.“Kenapa?” tanya William tanpa menoleh.“Dia ke sini lagi. Meminta maaf dan memohon izin bertemu Sasha. A
"Aku bisa membantumu bebas, Raka. Tapi ada syaratnya.”Clarisa mendatangi kantor polisi, dia berniat membebaskan kembali Raka agar bisa membantunya membuat William memberikan semua yang dia mau.“Aku sudah malah berurusan dengan wanita licik sepertimu. Dulu saja waktu kita berurusan dengan Pak William, kamu tak membelaku dan kamu bebas sendirian tanpa memikirkan aku. Sekarang kamu harap aku membantumu? Jangan harap!” berang Raka.“Tapi Sasha sudah kembali dan dia tak mati. Dia kembali denban anak Pak William. Kamu bisa membujuknya agar mau kembali dengan mu. Bukankah kamu masih mencintai Sasha?”Clarisa tersenyum simpul, menyadari bahwa umpan yang ia lemparkan tepat mengenai sasaran. Rahang Raka yang semula mengeras kini tampak sedikit mengendur, meski sorot matanya masih dipenuhi kebencian."Sasha... masih hidup?" bisik Raka. Suaranya serak, seolah kata-kata itu adalah sesuatu yang mustahil."Dia lebih dari sekadar hidup, Raka. Dia kembali dengan membawa 'kunci' untuk menghancurkan p
“Ini semua gara gara Sasha.”Clarisa benar benar muak dengan drama Sasha yang kembali menghantui. Dia dan Raka yang pernah berkasus saja usai setelah berita kematian Sasha. Kini, Sasha kembali dan dia dalam masalah besar. Pekerjaan yang digadang-gadang bisa membuatnya kembali naik pamor, kembali terguncang dengan kabar itu. “Pulang cepet, Cla?” tanya Linda.“Ini semua gara gara anak Papa yang kurang ajar itu. Gak nyangka banget dia muncul di kantor dan bikin semuanya kacau.”“Sasha ada di sana? Kamu yakin gak salah lihat?” tanya Linda kaget dan langsung mendekat untuk memastikan yang dilihat anaknya benar benar Sasha. “Gak, Ma. Siapa lagi yang berani terang-terangan muncul dengan Pak William kalau bukan si pelacur kecil itu? Sialan!!”"Mama nggak tahu betapa sombongnya dia tadi," desis Clarisa sembari melempar tas bermereknya ke atas sofa beludru hingga benda itu terjatuh ke lantai. Napasnya memburu, matanya berkilat penuh kebencian. "Dia berdiri di samping Pak William seolah-olah d
Langkah kaki Sasha terasa berat namun pasti di atas lantai marmer yang dingin. Lorong mansion itu terasa begitu sunyi, hanya menyisakan pantulan cahaya redup dari lampu dinding yang berpendar temaram. Di balik pintu kayu ek yang terukir indah, dunianya yang sebenarnya berada.Sasha mendorong pintu kamar Arlan dengan sangat perlahan, takut suara sekecil apa pun akan mengusik mimpi indah putra kecilnya.Di sana, di bawah selimut biru muda, Arlan terlelap dengan tenang. Wajahnya yang polos tampak begitu damai, sangat kontras dengan badai yang baru saja Sasha lalui di kamar sebelah. Sasha duduk di tepi ranjang, tangannya yang masih terasa gemetar terulur untuk mengusap kening Arlan yang hangat."Maafkan Mama, Nak," bisiknya nyaris tak terdengar. "Mama harus bertahan di sini, di sangkar ini, hanya untuk memastikanku tetap bisa memelukmu setiap malam."Sasha tertegun sejenak. Ia teringat ucapan William tadi. Ada sisi dari William yang sangat membingungkan bagi Sasha. Pria itu bisa menghan
“Bagaimana aku membagi waktu antara kuliah dan juga bekerja serta memberi waktu bermain dengan Arlan?” protes Sasha begitu mereka sampai di rumah.William tidak menghentikan langkahnya. Ia terus berjalan menuju sofa kulit di ruang tengah yang luas, melepas kancing jasnya dengan gerakan yang tenang namun penuh otoritas. Ia duduk, menyandarkan punggungnya, dan menatap Sasha yang masih berdiri mematung dengan gaun mahalnya."Manajemen waktu adalah keterampilan pertama yang harus kau kuasai jika ingin menjadi seorang Aditama, Sasha," ujar William datar. Suaranya bergema di ruangan yang langit-langitnya tinggi itu. "Kau tidak sedang meminta izin. Aku sedang memberimu instruksi.""Tapi Arlan masih kecil, William! Dia butuh ibunya, bukan hanya sekadar uang dan mainan yang kau tumpuk di kamarnya," suara Sasha meninggi, meski ada getaran ketakutan yang terselip di sana.William memberikan isyarat agar Sasha mendekat. Dengan ragu, Sasha melangkah hingga ia berada tepat di hadapan pria itu. Will
"Terimakasih, Dokter. Kebaikanmu akan selalu aku ingat!”Sasha memutuskan kembali ke ruangannya, dia menghindar dari Adrian demi kebaikannya sendiri. Satu pelajaran dari William yang sampai detik ini masih dia ingat.“Jangan pernah memancing lelaki untuk terpikat karena hasrat lelaki tak akan perna
"Sasha..."Malam itu, di apartemennya yang minimalis namun mewah, Adrian menatap layar ponselnya dengan kening berkerut. Pesan singkat yang ia kirimkan sore tadi mengenai vitamin hanya menunjukkan status single tick. Awalnya ia mengira sinyal di daerah pinggiran tempat Sasha tinggal sedang bermasal
"Tunggu! Seratus juta. Tinggalkan kota ini dan jauhi Adrian.”Langkah Sasha terhenti seketika. Suara decitan cek yang sedang dirobek dari bukunya terdengar nyaring di tengah kesunyian jalanan yang panas. Sasha perlahan membalikkan tubuhnya, menatap selembar kertas berharga fantastis itu yang kini t
"Calon istri?” bisik Sasha dengan suara yang hampir tak terdengar. Sasha menghentikan langkahnya. Udara siang yang tadinya terasa hangat dan membawa harapan, tiba-tiba berubah menjadi dingin dan mencekam. Ia menatap wanita di dalam mobil itu. Penampilannya sempurna, tipikal wanita dari kelas sosi







