Share

bab 165

Penulis: Azzura Rei
last update Tanggal publikasi: 2026-04-09 16:05:12

Langkah kaki Sasha terasa berat namun pasti di atas lantai marmer yang dingin. Lorong mansion itu terasa begitu sunyi, hanya menyisakan pantulan cahaya redup dari lampu dinding yang berpendar temaram. Di balik pintu kayu ek yang terukir indah, dunianya yang sebenarnya berada.

Sasha mendorong pintu kamar Arlan dengan sangat perlahan, takut suara sekecil apa pun akan mengusik mimpi indah putra kecilnya.

Di sana, di bawah selimut biru muda, Arlan terlelap dengan tenang. Wajahnya yang polos tampak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 166

    “Ini semua gara gara Sasha.”Clarisa benar benar muak dengan drama Sasha yang kembali menghantui. Dia dan Raka yang pernah berkasus saja usai setelah berita kematian Sasha. Kini, Sasha kembali dan dia dalam masalah besar. Pekerjaan yang digadang-gadang bisa membuatnya kembali naik pamor, kembali terguncang dengan kabar itu. “Pulang cepet, Cla?” tanya Linda.“Ini semua gara gara anak Papa yang kurang ajar itu. Gak nyangka banget dia muncul di kantor dan bikin semuanya kacau.”“Sasha ada di sana? Kamu yakin gak salah lihat?” tanya Linda kaget dan langsung mendekat untuk memastikan yang dilihat anaknya benar benar Sasha. “Gak, Ma. Siapa lagi yang berani terang-terangan muncul dengan Pak William kalau bukan si pelacur kecil itu? Sialan!!”"Mama nggak tahu betapa sombongnya dia tadi," desis Clarisa sembari melempar tas bermereknya ke atas sofa beludru hingga benda itu terjatuh ke lantai. Napasnya memburu, matanya berkilat penuh kebencian. "Dia berdiri di samping Pak William seolah-olah d

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 165

    Langkah kaki Sasha terasa berat namun pasti di atas lantai marmer yang dingin. Lorong mansion itu terasa begitu sunyi, hanya menyisakan pantulan cahaya redup dari lampu dinding yang berpendar temaram. Di balik pintu kayu ek yang terukir indah, dunianya yang sebenarnya berada.Sasha mendorong pintu kamar Arlan dengan sangat perlahan, takut suara sekecil apa pun akan mengusik mimpi indah putra kecilnya.Di sana, di bawah selimut biru muda, Arlan terlelap dengan tenang. Wajahnya yang polos tampak begitu damai, sangat kontras dengan badai yang baru saja Sasha lalui di kamar sebelah. Sasha duduk di tepi ranjang, tangannya yang masih terasa gemetar terulur untuk mengusap kening Arlan yang hangat."Maafkan Mama, Nak," bisiknya nyaris tak terdengar. "Mama harus bertahan di sini, di sangkar ini, hanya untuk memastikanku tetap bisa memelukmu setiap malam."Sasha tertegun sejenak. Ia teringat ucapan William tadi. Ada sisi dari William yang sangat membingungkan bagi Sasha. Pria itu bisa menghan

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 164

    “Bagaimana aku membagi waktu antara kuliah dan juga bekerja serta memberi waktu bermain dengan Arlan?” protes Sasha begitu mereka sampai di rumah.William tidak menghentikan langkahnya. Ia terus berjalan menuju sofa kulit di ruang tengah yang luas, melepas kancing jasnya dengan gerakan yang tenang namun penuh otoritas. Ia duduk, menyandarkan punggungnya, dan menatap Sasha yang masih berdiri mematung dengan gaun mahalnya."Manajemen waktu adalah keterampilan pertama yang harus kau kuasai jika ingin menjadi seorang Aditama, Sasha," ujar William datar. Suaranya bergema di ruangan yang langit-langitnya tinggi itu. "Kau tidak sedang meminta izin. Aku sedang memberimu instruksi.""Tapi Arlan masih kecil, William! Dia butuh ibunya, bukan hanya sekadar uang dan mainan yang kau tumpuk di kamarnya," suara Sasha meninggi, meski ada getaran ketakutan yang terselip di sana.William memberikan isyarat agar Sasha mendekat. Dengan ragu, Sasha melangkah hingga ia berada tepat di hadapan pria itu. Will

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 163

    William tidak langsung menjawab. Ia justru meraih sebuah kotak beludru hitam dari meja rias, membukanya, dan mengeluarkan seuntai kalung berlian dengan mata zamrud yang berkilau tajam di bawah lampu kristal. Dengan gerakan posesif, ia melingkarkan perhiasan dingin itu di leher Sasha."Termasuk itu," jawab William setelah mengunci kaitan kalung tersebut. Jemarinya sengaja berlama-lama di tengkuk Sasha, merasakan bulu kuduk wanita itu meremang. "Ayahmu, kemewahan ini, dan keamanan Arlan. Semuanya ada dalam genggamanku. Kau hanya perlu menjadi bayanganku yang setia. Tak perlu mencari atau tahu bagaimana kondisi Ayahmu"Sasha menatap pantulannya di cermin. Ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Gaun Versace itu membuatnya tampak seperti bangsawan, namun di matanya, ia hanya melihat seorang tawanan yang sedang dihias sebelum dipamerkan."Kau bicara seolah-olah aku punya pilihan," bisik Sasha getir."Kau selalu punya pilihan, Sasha. Hanya saja, kau cukup cerdas untuk tahu bahwa melawan

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 162

    “Alasan bodoh! Apa yang kau lihat di sana, Sasha? Kelemahan? Atau masa depan yang tidak sanggup kau tolak?”Suara William merambat di tengkuk Sasha, berat dan bergetar, saat jemarinya mulai mendaki perlahan dari lutut menuju paha Sasha.Sasha tersentak, mencoba menggeser duduknya, namun tangan William yang lain sudah lebih dulu mencengkeram sandaran kursi, mengurungnya. “Lepaskan tanganmu, William. Kita sedang di kantor.”“Kantor ini milikku. Semua yang ada di gedung ini bernapas atas izinku. Termasuk kau,” bisik William. William menarik kursi Sasha hingga mereka berhadapan begitu dekat. “Aku mau bertanya ulang. Jawab pertanyaanku. Semalam, kenapa kau memperhatikan aku tidur?”“Aku hanya... aku merasa asing melihatmu setenang itu,” jawab Sasha parau, mencoba memalingkan wajah. “Kau terlihat seperti manusia biasa saat tidur, bukan monster yang terobsesi pada kendali.”William terkekeh sinis, jemarinya berhenti tepat di batas rok Sasha. “Monster? Kalau aku monster, kau tidak akan duduk

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 161

    "Jalan jalan dong, Sayang.” William menggendong dan menciumnya penuh kasih.“Mama ikut?”William menengok pada Sasha,” menurut Arlan, ikut nggak?”“Kalau mama ikut, Arlan mau. Kalau enggak, Arlan gak mau.”“Kenapa?”“Kasihan mama, selama ini mama sudah ngerawat Arlan sendirian, Papa. Ikut ya mama Arlan?”William tersenyum dan mengangguk. Keduanya keluar dan Sasha masih berdiri mematung di sana. Mencerna dengan baik apa yang dilakukan oleh Arlan kepada William.Bunyi klakson mengangetkan Sasha, dia pun mengambil tasnya dan bergegas menyusul keduanya sebelum William memberikan hukuman.Kantor pusat Van Doren Enterprises adalah monumen kaca dan baja yang melambangkan kekuasaan mutlak. Sasha merasa kerdil saat melangkah masuk ke lobi yang luas, dikawal oleh William yang berjalan dengan keangkuhan seorang raja. Para karyawan menunduk hormat, namun Sasha bisa merasakan tatapan penasaran dan bisik-bisik di belakang mereka.Di dalam lift pribadi menuju lantai teratas, keheningan menyelimuti m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status