LOGINSasha berlari menyusuri lorong rumah sakit yang terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Paru-parunya terasa terbakar, namun rasa sesak di dadanya jauh lebih menyakitkan. Bayangan monitor jantung Arlan yang berbunyi terus menghantui pikirannya.Saat ia sampai di depan pintu kamar VVIP, langkahnya terhenti. Pintu itu terbuka lebar. Dua orang penjaga baru berdiri kaku di sana, dan suasana di dalam ruangan tampak jauh lebih mencekam.Sasha masuk dengan napas tersengal. Ia melihat William berdiri di samping ranjang Arlan, membelakanginya. Bahu pria itu tampak tegang, sementara tangannya yang berdarah mencengkeram besi ranjang hingga memutih."Arlan..." bisik Sasha, mendekat dengan kaki gemetar.Sasha merasa lega melihat dada kecil putranya masih naik turun secara teratur, namun kelegaan itu sirna saat William berbalik. Matanya tidak lagi menunjukkan kemarahan yang meluap-luap, melainkan kekosongan yang jauh lebih menakutkan."Dokter baru saja keluar," suara William terdengar datar, namun
"Aku punya teman-teman baru sekarang, Sasha. Orang-orang yang juga ingin melihat sang 'Monster' itu jatuh. Tapi lupakan William. Lihat ini," Raka mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah foto digital yang membuat wajah Sasha pucat pasi. Itu adalah foto mereka bertahun-tahun lalu.“Memang aku takut? Aku gak akan takut,” ujar Sasha mencoba berani seperti saat dia meninggalkan Raka.Raka menyeringai tipis, melangkah satu tindak lagi hingga Sasha terpojok ke batang pohon beringin yang dingin. "Kau memang selalu keras kepala, Sasha. Itu yang membuatku tergila-gila dulu. Tapi keberanianmu sekarang adalah kebodohan. Kau pikir William akan peduli dengan penjelasanmu? Begitu dia melihat foto ini, di kepalanya hanya akan ada satu kata, yaitu pengkhianatan."Sasha mendongak, matanya berkilat meski tubuhnya gemetar. "William mungkin seorang monster, tapi dia tidak serendah kamu, Raka! Kau hanya pecundang yang bersembunyi di balik layar ponsel. Hapus foto itu atau aku sendiri yang akan memastik
"Tapi aku ingin kembali berurusan denganmu. Aku masih memiliki foto seksimu. Jadi, pertambakan lagi reputasimu fan William di luar sana. Kita harus balikan. Please… diam diam pun tak masalah. Aku siap jagain kamu dan Arlan dari siapapun.”Tangan Sasha bergetar hebat. Layar ponselnya yang masih menyala menampilkan pesan dari Raka. Pesan berisi sebuah ancaman yang dibalut dengan kata-kata manis yang memuakkan. Kalimat terakhir tentang foto tidak senonoh itu seperti sebilah pisau yang menembus jantungnya. Itu bukan sekadar kenangan; itu adalah alat pemerasan.Ia melirik ke pintu yang baru saja tertutup rapat oleh William. Pria itu punya telinga di mana-mana. Jika William tahu Raka menghubunginya, atau lebih buruk lagi, jika William melihat foto yang dimaksud Raka, Sasha tidak bisa membayangkan kehancuran apa yang akan menimpanya. William bukan tipe pria yang akan bertanya baik-baik; dia akan menghancurkan sebelum mendengarkan penjelasan.Sasha menatap Arlan yang masih terlelap. Alat moni
Jarum jam menunjukkan pukul tiga pagi. William masih belum memejamkan mata. Ia duduk di kursi kulit di samping ranjang Arlan, memerhatikan setiap tarikan napas putranya yang masih dibantu alat pernapasan.Rasa sakit di tangannya yang terbakar mulai berdenyut, namun ia mengabaikannya. Baginya, rasa sakit fisik ini adalah pengingat akan kegagalannya melindungi Arlan di hari kejadian itu. Dia menyentuh kening Arlan pelan, wajah anaknya itu benar benar mirip. Senyum pun terbit dan tidak menyangka jika dia akan mendapatkan keturunan semudah itu.Sasha menggeliat. William beralih menengok ke arah Sasha. Wanita itu tidur di sisi Arlan, menemani di sebelah kiri dengan tangan yang tak lepas di jadi telunjuk Arlan.William hampir menyentuh kepalanya karena membayangkan betapa sedihmya kala melahirkan Arlan tanpa dirinya. Dia tahu, setiap kejam yang dia lakukan pasti ada alasan dan entah kenapa, saat ini hatinya mulai goyah."Tuan William?"Suara lembut itu kembali terdengar. Sasha terbangun den
"Apa yang kamu lakukan di sini, Hendri? Bukankah aku menyuruhmu pergi?"Suara William terdengar seperti gesekan es, tajam dan tanpa emosi, meski ia baru saja melepaskan pelukan singkat dari Sasha yang terbangun karena mimpi buruk. Ia berdiri tegak, membalikkan tubuhnya dengan keangkuhan yang sudah mendarah daging, seolah kelembutan yang ia tunjukkan pada Sasha beberapa detik lalu hanyalah fatamorgana. "Maaf, Tuan. Saya hanya ingin memastikan jadwal pengamanan berlapis untuk besok pagi."William tidak menjawab. Ia hanya memberikan isyarat mata yang memerintah Hendri untuk meletakkan berkas itu di meja dan segera angkat kaki. Setelah pintu tertutup rapat, keheningan kembali menguasai ruangan VVIP itu.Sasha masih terduduk di tepi sofa, matanya yang sembap menatap William dengan campuran rasa syukur dan ngeri. Ia mengenal sisi dingin pria ini, namun intensitas kemarahan William terhadap keluarga Bramantyo membuatnya sadar bahwa pria di hadapannya adalah sosok yang bisa menghancurkan hid
"Mama? Apa yang terjadi? Kenapa apartemenku disegel?!" Clarissa berteriak histeris, mencoba menerobos petugas yang masih berjaga."Clarissa, berhenti!" Linda menarik lengan putrinya dengan kasar. "Kita harus pergi. Sekarang.""Pergi? Ini rumahku! Papa yang membelikannya untukku! Ini hadiah dari Pak William untukku.”“Justru Dia yang melakukannya. William sudah mengambilnya kembali,” lirih Linda.“Apa? Dia tidak mungkin melakukan ini!" Clarissa meronta, namun saat ia melihat tatapan kosong dan hancur di mata ibunya, keberaniannya surut."Semua ini karena Ayahmu... ayahmu sudah menghancurkan segalanya," bisik Linda dengan suara yang gemetar. "Apa maksud mama?”“Entahlah, mama juga tak mengerti. Tapi, asisten Willliam bilang jika ia menculik Arlan. Dia mencoba meledakkan gudang dengan William di dalamnya. Dan sekarang, William mencabut semua yang pernah dia berikan pada kita. Kita tidak punya apa-apa lagi, Clarissa.”"Tidak, ini tidak mungkin. Kita miskin lagi, Mama,” pekik Clarissa. C
"Halo, Jagoan. Sudah merasa lebih baik?"“Lumayan, Om sepatu kaca juga baik kah? Kata Mama, Om juga sakit!”“Sepertinya mama kamu salah, Om baik baik saja. Kamu lihat sendiri. Om sehat kan? Bahkan Om bawa hadiah buat kamu.”Mata Arlan membelalak melihat mainan itu. "Wah! Ini untuk Arlan, Om?""Tent
Prosedur transplantasi pada Arlan sedang berjalan, Pak William. Anda harus istirahat," ujar seorang perawat.Namun, William bukanlah pria yang mudah diperintah. Dengan keras kepala, ia meminta kursi roda. Ia menolak untuk tetap berbaring sementara ada sebuah nyawa yang kini membawa bagian dari diri
Sasha mengikuti langkah lebar William keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang berkecamuk. Lorong gedung fakultas yang sepi di sore hari itu terasa begitu panjang. Setiap langkah kaki William yang terburu-buru seolah-olah sedang mengejar waktu yang hilang selama lima tahun, sekaligus melarikan
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya William. “Maaf, Pak. Saya…”“Saya pikir kamu sudah mati. Ternyata, kamu dan ayahmu sama saja. Penipu!” Suara William terdengar rendah, datar, namun ada getaran keterkejutan yang gagal ia sembunyikan sepenuhnya. Tidak ada pelukan hangat, tidak ada kata maaf. H







