Fajar datang perlahan di Desa Sumberrejo. Kabut tipis yang biasa turun di pagi hari menyelimuti sawah dan jalan tanah di sekitar desa. Cahaya matahari yang masih malu-malu menembus sela-sela pohon kelapa dan bambu, menciptakan bayangan panjang di tanah yang masih basah oleh embun. Segalanya tampak… normal. Seolah malam sebelumnya tidak pernah terjadi. Namun bagi Aruna dan teman-temannya, pagi itu terasa sangat berbeda. Mereka berjalan kembali dari hutan dengan langkah lambat. Tubuh mereka lelah, pakaian mereka kotor oleh tanah dan dedaunan, dan mata mereka masih berat karena semalaman hampir tidak tidur. Bima menguap panjang. “Kalau ada yang nanya kenapa kita kelihatan kayak habis perang… kita jawab apa?” Bagas tertawa kecil. “Bilang saja habis cari kayu bakar.” Embun menggeleng. “Kayu bakar sampai jam segini?” Bulan menambahkan dengan wajah datar, “Kayu bakar dari dunia lain.” Semua tertawa kecil. Tawa yang lebih ringan dibandingkan malam tadi. Ketika m
Read more