Tiga simpul telah bangun.Taman.Sungai.Rumah sakit lama.Dan sejak hari itu, kota tidak lagi terasa seperti kota biasa bagi Aruna.Ia tidak perlu lagi mencari denyut jaringan. Denyut itu kini selalu ada seperti napas kedua yang hidup berdampingan dengan napasnya sendiri.Namun malam itu, sesuatu berubah lagi.Aruna terbangun bukan karena mimpi buruk.Melainkan karena kesunyian yang terlalu dalam.Jam menunjukkan pukul 02.47.Biasanya, di jam seperti ini, ia masih bisa merasakan aliran lembut jaringan. Stabil. Tenang.Tapi sekarangSepi.Bukan hilang.Melainkan seperti ditahan.Ia duduk perlahan di tempat tidur, menutup mata.Simpul taman… masih ada.Simpul sungai… ada.Simpul rumah sakit… ada.Tapi di antara ketiganya—Ada jarak.Seperti ada lapisan tipis yang menghalangi resonansi.“Bukan retakan…” bisiknya.Ini berbeda.Keesokan paginya, ia langsung menemui Hana dan Raka.Mereka bertemu di taman, seperti biasa. Pelangi, Embun, Bulan, Bima, Bagas, Alvaro, dan Hileon ikut berkumpul.
Baca selengkapnya