Angin sore menyapu pelataran rumah Pak Seno dan Bu Seno dengan lembut, membawa aroma tanah basah sehabis hujan. Langit berwarna jingga keemasan, seperti lembaran kisah panjang yang hampir ditutup namun belum benar-benar selesai. Aruna berdiri di depan jendela kamar, memandang jauh ke arah hutan yang dulu menjadi saksi segala ketakutan mereka.Pelangi duduk di ranjang sambil memeluk lutut. Embun dan Bulan berada di lantai, menata buku-buku catatan lama mereka saat KKN. Bima bersandar di pintu, sementara Alvaro dan Bagas berdiri di teras, berbicara pelan dengan Pak Seno. Hileon, seperti biasa, memilih duduk sendirian di kursi kayu dekat halaman, wajahnya setenang permukaan danau yang tak tersentuh angin.Mereka semua tahu satu hal: sesuatu belum benar-benar selesai.“Aruna…” suara Pelangi lirih. “Kamu juga merasakannya, kan?”Aruna tidak menjawab langsung. Ia memejamkan mata, mencoba merasakan getaran udara yang tak kasat mata. Sejak malam terakhir di desa itu, kepekaannya semakin tajam
Magbasa pa