Hutan Sumberrejo perlahan kembali sunyi.Angin yang sebelumnya berputar liar kini hanya berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan daun yang jatuh. Cahaya matahari mulai menembus celah-celah pepohonan, seolah mencoba menghapus jejak kegelapan yang tadi memenuhi tempat itu.Namun bagi mereka—ketenangan ini terasa rapuh.Seperti kaca tipis yang bisa pecah kapan saja.Aruna terbaring lemah di pelukan Pelangi.Tubuhnya terasa dingin.Napasnya tidak teratur.Setiap tarikan napas terdengar berat, seolah ia harus berjuang hanya untuk tetap hidup.“Aruna… dengar aku…”Suara Pelangi bergetar.Tangannya gemetar saat menyentuh wajah Aruna.“Jangan pergi…”Bima berlutut di samping mereka.Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak menunjukkan candaan.“Dia kenapa…?”Bagas menatap Aruna dengan serius.“Energinya habis.”Embun langsung menutup mulutnya.“Jangan bilang…”Hileon maju selangkah.Matanya tajam, mengamati kondisi Aruna.“Dia belum mati.”Semua langsung menoleh.Hileon melanjutkan,“Dia
Read more