Beberapa menit berlalu dan hujan mulai reda, menyisakan gerimis kecil yang masih terdengar riuh di atap rumah.Lastri mulai menegakkan tubuhnya, mencoba melepaskan diri dari dekapan Tuan Ardan. Dan ia cukup lega karena kali ini Tuan Ardan tidak menahannya."Saya... mau kembali ke kamar. Terima kasih sudah menemani saya, Tuan," ucap Lastri pelan sambil menunduk, tak berani menatap mata Tuan Ardan.Ardan menatap Lastri beberapa detik sebelum akhinya bertanya, "Apa kamu sudah mengantuk? Kalau belum, tolong buatkan kopi."Lastri mengangkat wajahnya, mencoba mencari makna tersembunyi dari kata-kata itu, tapi ia tak bisa menemukan apa-apa. Akhirnya ia hanya bisa mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Saya buatkan sekarang."Listrik belum menyala, Lastri melangkah hati-hati menuju dapur berbekal senter ponselnya. Dalam gelap itu, ia merasakan sesuatu yang mencekam, yaitu tatapan Tuan Ardan yang ia yakin masih mengamatinya dari belakang.Ardan menatap Lastri yang perlahan menjauh. Dalam kegelapan itu
Last Updated : 2026-03-12 Read more