Accueil / Urban / Godaan Tuan Majikan / GTM 23 : Makan Malam Romantis

Share

GTM 23 : Makan Malam Romantis

Auteur: RIANNA ZELINE
last update Dernière mise à jour: 2026-03-07 00:56:17

Lastri merasa jantungnya nyaris melonjak keluar saat melihat cara Tuan Ardan menatapnya. Bukan seperti majikan pada pelayan. Tapi seperti... pria pada wanita. Ia hampir menyesal telah mengenakan gaun itu.

Namun ketika Tuan Ardan melangkah mendekat, langkah yang tenang namun penuh tujuan, penyesalan itu berubah menjadi getaran halus yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Kau terlihat…” Ardan berhenti tepat di depannya, jarak mereka hanya sejengkal. “Sangat cantik.”

Suara itu rendah. Hangat. Tidak l
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 23 : Makan Malam Romantis

    Lastri merasa jantungnya nyaris melonjak keluar saat melihat cara Tuan Ardan menatapnya. Bukan seperti majikan pada pelayan. Tapi seperti... pria pada wanita. Ia hampir menyesal telah mengenakan gaun itu.Namun ketika Tuan Ardan melangkah mendekat, langkah yang tenang namun penuh tujuan, penyesalan itu berubah menjadi getaran halus yang menjalar ke seluruh tubuhnya.“Kau terlihat…” Ardan berhenti tepat di depannya, jarak mereka hanya sejengkal. “Sangat cantik.”Suara itu rendah. Hangat. Tidak lagi formal.Lastri menunduk, napasnya tak stabil. “Ini… terlalu berlebihan untuk saya, Tuan.”“Tidak,” Ardan menggeleng pelan. “Justru sangat pantas.”Tangannya terangkat, seolah ingin menyentuh pundak tipis yang terbuka itu. Namun ia berhenti di udara, menahan diri.“Terima kasih sudah kembali malam ini,” lanjutnya lebih pelan.Lastri mengangkat wajahnya perlahan. Hujan masih terdengar di luar, tapi di dalam ruangan itu, suasana terasa jauh lebih panas. Ia tidak tahu apa yang lebih berbahaya: H

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 22 : Menepati Janji

    Pagi datang dengan cahaya yang lebih ramah.Lastri terbangun lebih dulu. Refleks, tangannya langsung menyentuh kening Yudha. Tidak sepanas semalam. Tidak lagi membakar.Ia menghela napas panjang. “Alhamdulillah...” bisiknya lirih.Yudha menggeliat pelan, matanya membuka setengah. Wajahnya masih pucat, tapi senyumnya muncul ketika melihat ibunya. “Ibu nggak kerja?”Lastri tersenyum, mengusap rambut anaknya. “Hari ini Ibu di rumah. Katanya ada yang mau dibeliin mainan?”Mata Yudha langsung berbinar, seolah sisa demamnya luruh bersama antusiasme itu. Arman memperhatikan dari tempat tidurnya. Ada sesuatu yang hangat melihat Lastri tertawa kecil menghadapi rengekan anaknya yang mendadak sehat luar biasa.Menjelang siang, Lastri mengajak Yudha ke warung mainan kecil di ujung gang. Bukan toko besar—hanya etalase kaca dengan mobil-mobilan plastik, robot murah, dan balon warna-warni yang bergantung di langit-langit seng.Yudha memegang tangannya erat-erat.“Ibu, yang itu...” Ia menunjuk mobil-

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 21 : Pulang Sementara

    Sup buatan Lastri akhirnya siap. Ia menghidangkan makanan itu di ruang tengah. Tak lupa ia memanggil ibu dan ayah mertuanya untuk makan malam bersama.Lastri lebih dulu mengambilkan makanan untuk Arman, kemudian mengambil lagi dengan porsi lebih sedikit untuk Yudha. Dengan penuh kesabaran, ketelatenan, dan kasih sayang, ia menyuapi putranya. Hal yang sudah lama tak ia lakukan sejak Yudha mulai belajar makan sendiri. Dan kini, melihat tubuhnya dalam keadaan lemah karena demam, hatinya merasa teriris. Ia berharap dalam waktu dua hari ini, Yudha benar-benar sembuh agar ia bisa kembali bekerja dengan tenang."Bagaimana pekerjaanmu di sana, Nduk? Siapa yang handle kalau kamu sedang cuti seperti ini?" tanya Ningsih di sela makan malam keluarga kecil mereka."Biasanya Tuan sendiri yang mengurus istrinya. Kalau soal makan bisa tinggal pesan. Dan urusan bersih-bersih setahu Lastri panggil tukang taman yang biasa ngurus taman di rumah, Bu.""Oh, gitu? Kenapa nggak nambah asisten saja, ya? Kan b

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 20 : Meminta Izin

    Pagi itu langkah Lastri terdengar pelan. Baki sarapan di tangannya sedikit bergetar, sendok kecil beradu pelan dengan cangkir porselen. Ia mengetuk pintu kamar dengan sopan, lalu masuk setelah mendengar suara lembut Nyonya Ratih mempersilakan.Di dalam, tirai jendela setengah terbuka. Cahaya matahari jatuh hangat di lantai marmer. Nyonya Ratih duduk bersandar di kepala ranjang, sementara Ardan tampak di sofa dekat jendela, membaca sesuatu di tablet-nya. Setidaknya, itulah yang terlihat.Lastri meletakkan baki di atas meja kecil di sisi ranjang. “Sarapan pagi, Nyonya.”Nyonya Ratih menatapnya lama. Alisnya berkerut tipis. “Lastri… wajahmu pucat. Kamu masih sakit?”Lastri buru-buru menggeleng. Senyumnya dipaksakan, tipis dan rapuh. “Tidak, Nyonya. Hanya… semalam kurang tidur.”“Kurang tidur?” Suara Ratih melembut. “Kenapa?”Lastri menunduk, jari-jarinya saling meremas di depan perut. “Semalam perasaan saya tidak tenang. Saya kepikiran anak saya, Nyonya. Lalu pagi tadi ibu mertua saya me

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 19 : Bermain Sendiri

    —Lastri tak menjawab. Ia menunduk menahan malu—bukan hanya pada Tuan Ardan, tapi pada dirinya sendiri. Ia masih tak mengerti mengapa tubuhnya justru merespon sampai seperti itu—ikut terhanyut pada suasana. Mungkin saja karena ia sudah lama tak mendapatkan jatah itu dari suaminya.Ardan mengangkat dagu Lastri menggunakan ibu jari dan telunjukknya, meminta agar Lastri menatapnya. Dan dengan ragu-ragu, Lastri mengikuti gerakan itu."Kamu lihat, 'kan? Tubuh kamu juga menginginkannya. Kamu merindukan semua itu tapi kamu masih tak mau jujur dengan dirimu sendiri.""Tapi Tuan—"Ardan meletakkan jari telunjukknya di bibir Lastri, menahannya agar tidak berbicara lebih."Kamu takut," tebak Ardan. "Kamu takut ada yang mengetahui hubungan ini, bukan?"Lastri memejamkan mata rapat-rapat, lalu mengangguk cepat. "Iya, Tuan. Ini salah," ucapnya sedikit terisak.Ardan menangkup kedua pipi Lastri, mengusap air matanya yang perlahan turun di pipi."Aku hanya ingin kita sama-sama jujur, Lastri," bisikny

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 18 : Awal yang Panas

    Lastri berdiri di depan wastafel, membasuh wajahnya setelah muntah-muntah. Namun hanya cairan asam yang keluar, membuat perutnya terasa kosong sekarang. Setelah memastikan kamar mandi sudah bersih, Lastri langsung keluar. Ia sangat terkejut mendapati Ardan berdiri di depan pintu kamar mandi."Tu—tuan? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya terbata.Ardan menggeleng pelan. "Saya mendengar kamu mual-mual di dalam sana. Apa kamu baik-baik saja? Wajah kamu masih kelihatan pucat," ucapnya penuh rasa khawatir."Tidak apa-apa, Tuan. Saya hanya masuk angin. Setelah minum minuman hangat pasti akan baikan," jawab Lastri sambil menunduk sopan."Kalau begitu biar aku yang buatkan," ucapnya serius, bukan menawarkan diri. Lalu ia melangkah menuju dapur."Tidak, Tuan Ardan, saya masih bisa membuatnya sendiri," ucapnya sambil menghentikan Tuan Ardan, namun tak berhasil.Ardan berhenti ketika sudah berada di dapur. Ia berbalik dan berdiri di hadapan Lastri yang wajahnya merasa tak enak. Namun, tangan Ard

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status