"Kamu harus tidur, ini sudah larut," kata Jesika dengan lembut pada Dimas yang terlihat benar-benar kelelahan. Namun, bukan hanya Dimas, kedua putrinya juga terlihat jelas letih. Percakapan mereka sudah berlangsung terlalu lama, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang rela mengakhirinya begitu saja. Setidaknya, sekarang dia mengerti apa rencana dan alasan Dimas."Ibu juga," kata Dimas sambil tersenyum tipis."Fitria, antar Ibu ke kamarnya. Kamu juga harus istirahat," tambah Dimas.Setelah itu, Dimas melirik Kania. "Kamu benar, besok juga nggak akan mudah."Kania melangkah mendekati kakaknya dan mengusap lengannya dengan lembut. "Apa pun keputusanmu. Kalau kamu punya alasan yang jelas ... aku akan mendukungmu.""Terima kasih, Kania," kata Dimas sambil mengulurkan tangan dan mengelus puncak kepala adik Kania dengan penuh kasih sayang.Dimas sungguh berharap kedua saudarinya tidak akan pernah mengalami apa yang sedang dihadapinya sekarang. Oleh karena itu, dia selalu memperhatikan para
Read More