Dimas tertawa pelan, tetapi tawa itu dipenuhi kepahitan, menyisakan luka yang begitu jelas di dalamnya. Suaranya segera menghilang, digantikan keheningan."Hatiku benar-benar hancur, Nek. Entah kenapa, semua peringatan Nenek tentang Vera terus terngiang di kepalaku. Dulu aku pikir itu cuma karena Nenek nggak suka dia. Bahkan di saat-saat terakhir Nenek, Nenek tetap nggak mau merestui kami."Dia mengembuskan napas perlahan, mengangkat pandangannya ke langit Kota Mega. Cerah, tetapi dipenuhi awan tipis. Sinar mataharinya tidak terlalu menyengat dan udara terasa sejuk. Namun, emosinya sama sekali tidak tenang."Kalau saja ada yang memperlihatkan masa depan kepadaku, aku pasti nggak akan pernah melepaskan Anisa. Aku pasti akan dengar nasihat Nenek dan belajar mencintainya." Suaranya semakin pelan, semakin berat."Tapi sekarang semuanya sudah terlambat. Cinta dan kesetiaanku dibalas dengan pengkhianatan oleh orang yang paling kucintai dan kuperjuangkan mati-matian."Dimas mengembuskan napas
閱讀更多