Saat anak itu berlari riang menuju dapur, Dimas memanfaatkan kesempatan untuk beristirahat sejenak sebelum naik ke kamarnya.Dia bisa mendengar tawa Jevan bergema di seluruh rumah, bercampur dengan suara Jesika. Suara mereka mengisi setiap sudut dengan kehangatan.Dimas menyandarkan tubuhnya di sofa, matanya mengikuti sosok kecil yang entah bagaimana telah menghidupkan kembali rumah yang dahulu terasa sepi itu.Dia berusaha mengingat setiap gerakan, setiap senyuman, dan setiap tawa anak itu. Namun, ada sesuatu yang terus mengganggu pikirannya. Bohong jika dia mengatakan hal itu tidak membuatnya merasa gelisah.Sejak pertemuannya dengan Kelvin di kantor pagi tadi, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Dia terus dihantui oleh permintaan Kelvin yang terdengar tenang tetapi sebenarnya mengusik. "Jaga mereka. Anisa, Jevan, dan anakku."Dimas mengusap pelipisnya. Kelvin memang selalu berbicara dengan nada santai dan ringan, tetapi kali ini terasa berbeda. Kali ini, dia terlalu serius.
Read more