Anisa tersenyum tipis, lalu kembali menatap batu nisan itu dan berkata dengan tegas, "Aku percaya padamu, aku percaya kamu nggak pernah khianati kami."Ujung jari Anisa menyentuh batu nisan itu dengan pelan, tetapi penuh makna. Dia melanjutkan, "Kalau kamu masih ada di sini, kamu pasti akan marah lihat namamu dipakai seperti ini. Dan kamu pasti akan minta aku berdiri di sisimu untuk ungkap kebenarannya."Lydia tersenyum lembut. "Itu benar-benar terdengar seperti Kelvin yang selalu kamu ceritakan.""Iya. Dia selalu berkata, jangan pernah biarkan orang lain kendalikan kisah hidupmu," jawab Anisa.Keheningan kembali menyelimuti keduanya, hanya terdengar suara dedaunan yang tertiup angin dan langkah kaki para peziarah lainnya yang samar-samar di kejauhan."Anisa, kamu nggak sendirian. Apa pun yang terjadi, kamu masih punya kami. Ibu Riana, Ayah Daniel, Dimas, Jevan, Grace, dan bahkan Kaleb serta Kenny. Dan jangan pernah lupa ... kamu juga punya aku," kata Lydia lagi dengan suara yang lebih
Read more