"Kenapa aku harus marah?" tanya Jevan dengan tenang. "Kita sama-sama berada di bawah tekanan, hanya saja dengan cara yang berbeda."Eli mengembuskan napas panjang. "Aku ... aku sebenarnya nggak pernah ingin memaksakan semua ini. Tapi ...."Ucapannya menggantung. Dia kembali menunduk.Jevan mengangguk pelan, tanda mengerti. "Aku paham. Gimana kalau kita ganti topik saja?"Eli akhirnya tertawa kecil. "Boleh. Tapi sebelum itu, terima kasih, Jevan. Aku benar-benar menghargai bantuanmu."Mereka pun kembali mengobrol soal sekolah. Meski sekolah mereka saling bersaing, baik dalam akademik maupun bidang lainnya, persaingan itu tetap berlangsung secara sehat.Di tengah percakapan, ponsel Jevan tiba-tiba berdering. Dia langsung merogoh sakunya."Oh, ibuku," katanya sambil melirik layar ponsel. "Aku angkat sebentar ya."Eli mengangguk. Jevan berdiri sedikit menjauh dari meja, membelakangi Eli agar suaranya tidak terlalu terdengar. Begitu panggilan tersambung, raut wajahnya langsung melembut."Ya,
اقرأ المزيد