Namun, sebelum dia bisa menuntut jawaban atas semua pertanyaan yang berputar di kepalanya, ada sesuatu yang lebih penting yang harus dia ketahui."Anisa, kalau aku nggak salah memahami ceritamu, Dimas nggak tahu Jevan adalah anaknya, 'kan?""Untuk sekarang, aku rasa begitu," jawab Anisa pelan. "Tapi aku punya firasat, itu hanya soal waktu. Toh dia punya kemampuan untuk menyelidiki kami."Ucapan Anisa ada benarnya."Aku nggak bisa menyangkal, Jevan dan Dimas memang terlihat mirip. Terutama dari mata mereka."Anisa benar. Semakin Kelvin memikirkannya, semakin masuk akal kata-kata Anisa.Angin sepoi-sepoi berembus melewati atap gedung utama sekolah, meredakan panas matahari siang. Meskipun hari sudah cukup siang, bayangan dari atap yang memanjang membuat tempat itu tetap terasa sejuk dan nyaman.Dua cangkir kopi hangat terletak di antara mereka di atas bangku kayu panjang. Satu di depan Kelvin, satu lagi di depan Anisa yang duduk tepat berhadapan dengannya.Sekali lagi, keheningan menyeli
Read more