Zavian menatap Rico dengan sorot mata yang dingin namun mantap. Ucapan Rico tentang ancaman Edwin seolah lewat begitu saja di telinganya. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, Zavian memutuskan untuk mematikan mesin perang di dalam kepalanya."Lupakan soal Edwin, Rico. Lupakan soal ahli waris, pengacara, atau apa pun itu," ujar Zavian pelan namun penuh penekanan."Tapi Tuan Besar, ini bisa menjadi celah hukum yang ....""Aku bilang lupakan," potong Zavian. Ia menoleh ke arah pintu kamar rawat tempat tawa kecil Alice mulai terdengar. "Hari ini, di detik ini, tidak ada musuh. Hanya ada cucuku. Urus semua administrasi kepulangan Alice. Aku ingin dia tidur di ranjangnya sendiri malam ini."Rico terdiam, lalu membungkuk hormat. "Baik, Tuan Besar. Saya mengerti."Kepulangan Alice ke rumah disambut dengan suasana yang jauh berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi ketegangan yang menyesakkan dada. Para pelayan berbaris rapi di lobi, namun kali ini bukan un
Read more