LOGIN"Kau yakin kita harus melakukan ini, Rey? Ini gila!" Hana berbisik sambil menyesuaikan earpiece yang ia pinjam dari kru keamanan gedung. Wajahnya tampak tegang di bawah lampu remang-remang area backstage."Hana, jika benar apa yang kita lihat di restoran tadi siang, maka keselamatan Nona Lucia bukan lagi soal karier, tapi soal martabat agensi kita," Rey menyahut sambil terus menatap layar tabletnya, memantau pergerakan tamu. "Robin ada di daftar tamu undangan kehormatan. Itu tidak masuk akal kecuali dia punya rencana busuk.""Aku sudah memeriksa semua minuman di meja nomor satu," Hana mengangguk mantap. "Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mendekati Kak Lucia tanpa seizinku. Tapi Rey... kalau sampai polisi benar-benar datang seperti firasatmu, apa kita harus melawan?""Kita tahan mereka sebentar, beri waktu untuk Tuan Arthen membawa Nona Lucia keluar lewat pintu darurat. Aku sudah menyiapkan mobil di basement B2," jawab Rey tenang, meski jemarinya bergetar.
"Rey, kau lihat itu? Kau lihat?!" Hana menarik ujung jas Rey hingga pria itu nyaris tersungkur di balik pilar lobi gedung V-ACE."Hana, pelankan suaramu! Kita bisa ketahuan!" Rey berbisik tajam sambil membenarkan letak kacamatanya. Matanya menyipit, menatap sebuah mobil sedan hitam yang baru saja meluncur pelan menjauhi lobi. Di dalam mobil itu, terlihat jelas CEO mereka, Arthen Valerius, sedang membukakan pintu untuk Lucia."Itu... itu bukan Martin, kan?" Hana menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak lebar. "Aku pikir yang menjemput Kak Lucia untuk makan siang itu Martin si petinju itu. Tapi itu tadi... Tuan Arthen? Dan cara dia memegang pintu... itu bukan cara bos memperlakukan artisnya, Rey!""Aku tahu," sahut Rey pendek, dahinya berkerut dalam. "Arthen itu tipe pria yang sangat menjaga jarak. Jangankan membukakan pintu, biasanya dia hanya akan menyuruh asisten untuk memastikan artisnya sampai tepat waktu. Tapi tadi... dia tersenyum, Hana. Ter
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai apartemen Lucia, menyapu wajahnya yang tampak jauh lebih segar dari biasanya.Lucia terduduk di tepi ranjang, jemarinya tak henti mengusap permukaan halus gantungan kunci kayu berbentuk kucing pemberian Arthen semalam. Senyum tipis yang sulit disembunyikan terus merekah di bibirnya setiap kali ia mengingat bagaimana jemari Arthen sempat bersentuhan dengan miliknya saat memberikan kotak itu di depan pintu apartemen."Kak Lucia? Sudah bangun? Aku sudah bawa jus kaleng dan jadwal untuk fitting gaun hari ini!" Suara cempreng Hana terdengar bersamaan dengan ketukan di pintu.Lucia tersentak, hampir saja menjatuhkan gantungan kunci itu ke lantai. "I-iya, Hana! Masuk saja, pintunya tidak dikunci!"Hana melangkah masuk dengan semangat, namun langkahnya terhenti saat melihat Lucia yang sedang duduk termenung sambil memegang sebuah benda kayu kecil. Hana menyipitkan mata, menatap wajah bosnya yang tampak... sangat mencurigakan."Kak, k
Malam semakin larut saat sedan hitam itu membelah kesunyian jalanan ibu kota.Di dalam kabin, hanya ada suara deru mesin yang halus dan alunan piano yang menenangkan. Arthen tetap fokus pada kemudi, sementara Lucia menyandarkan kepalanya, menatap lampu-lampu jalan yang berlarian di kaca jendela."Terima kasih, Arthen," bisik Lucia memecah keheningan yang panjang. "Dan maaf."Arthen melirik sekilas, sudut birinya terangkat tipis membentuk senyum kecil. "Kenapa setiap kalimatmu malam ini harus diawali dengan maaf, Lucia?""Karena aku tahu kau sangat sibuk," Lucia menoleh sejenak, menatap wajah Arthen dari samping yang diterpa lampu jalan. "Kau bukan hanya seorang aktor papan atas, kau juga sekarang seorang CEO V-ACE. Menungguku berjam-jam di parkiran gelap seperti itu... rasanya aku benar-benar merepotkanmu.""Repot?" Arthen terkekeh pelan, suara baritonnya terdengar begitu dalam dan menenangkan di ruang sempit itu. "Lucia, jika aku merasa direpotkan, aku tidak akan ada di sana sejak aw
Keheningan menyesakkan menyelimuti meja mereka di The Gilded Plate. Pertanyaan Lucia, "Ini prank, kan?", membuat senyum di wajah Arthen perlahan memudar, digantikan oleh tatapan yang begitu dalam dan serius.Arthen tidak melepaskan genggaman tangannya. Ia justru memajukan tubuhnya, mempererat kaitan jemari mereka. "Lucia, lihat mataku," ucapnya rendah. "Aku tidak pernah menjadikan perasaan sebagai bahan lelucon. Aku mencintaimu bukan karena kau aset V-ACE, tapi karena kau adalah wanita yang tetap berdiri tegak meski dunia berkali-kali mencoba mematahkanmu."Lucia merasakan dadanya berdenyut nyeri. Bayangan pengkhianatan David dan Navy masih menyisakan trauma yang nyata. "Arthen... aku... aku belum bisa memberikan jawaban apa pun. Kepalaku terasa penuh, apalagi dengan reuni SMA minggu depan..."Arthen tersenyum tipis, sorot matanya melembut penuh pengertian. "Aku tidak sedang menagih jawaban, Lucia. Aku hanya ingin kau tahu bahwa ada tempat bagimu untuk bersandar. Ambillah waktumu seba
Karena Arthen merasa jadwalnya kosong malam ini, ia mengajak Lucia untuk dinner bersamanya di restoran The Gilded Plate. Ada seseorang kenalannya yang merekomendasikannya ke restoran itu."Baiklah. Kebetulan malam ini tidak ada pekerjaan."Lucia menerimanya dengan senang hati, karena kebetulan ia juga memiliki waktu senggang malam ini setelah jadwal pemotretan yang padat.Arthen tersenyum puas mendengarnya. ---Di restoran suasana terasa sangat elegan dengan musik yang mengalun lembut.Namun, baru saja mereka memesan hidangan pembuka, ponsel Arthen tiba-tiba bergetar."Maaf, Lucia. Aku harus ke toilet sebentar sekalian membalas pesan mendesak dari Rey. Kau tidak apa-apa menunggu sebentar?" ucap Arthen sopan."Tentu, pergilah. Aku akan menikmati pemandangan di sini," jawab Lucia dengan senyum tenang.Begitu Arthen beranjak, Lucia memperhatikan hiruk-pikuk restoran. Di ujung ruangan, terdapat meja besar yang sangat ramai dengan sorak-sorai pria bertubuh kekar. Di tengah kerumunan itu, L
Udara di area parkir terasa membeku secara mendadak. Lucia masih terpaku di balik mobil boks, jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging menyakitkan. Kalimat Arthen di telepon tadi terus menggema di kepalanya. Wanitaku... meninggalkannya... penguntit...Arthen mem
Pagi yang tenang di sebuah halte bus yang dikelilingi pepohonan hijau. Kamera menyorot sosok wanita dewasa dengan rambut hitam lurus yang tergerai indah, tertiup angin sepoi-sepoi. Ia adalah Elena, mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan yang sedikit tersingkap, menatap kosong ke arah jalana
Malam itu, Lucia baru saja melepaskan gaun biru mudanya dan menggantinya dengan kaus kebesaran yang nyaman serta celana pendek. Ia baru saja selesai membersihkan wajah, namun bayangan pembacaan naskah tadi siang masih menari-nari di kepalanya. Tatapan Victor yang tajam, tepuk tangan Sut
Di dalam van hitam yang merayap pelan menembus kerumunan, Lucia duduk dengan jemari yang saling bertaut erat. Sesekali ia membuang napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang sejak semalam tidak bisa diajak kompromi. "Jujur saja, Hana... semalaman aku sulit sekali tidur







