Mag-log inPesta pernikahan megah berkonsep outdoor di tepi pantai Elysia berlangsung sangat anggun. Di hadapan keluarga, sahabat dekat, dan pendar lampu romantis, Arthen dan Lucia mengikat janji suci. Lucia tampil memukau dengan gaun putih yang merekah, sementara Arthen tak henti-hentinya menatap sang istri dengan binar mata penuh pengabdian. Malam itu, janji untuk saling melindungi dan mencintai sampai akhir hayat resmi terpatri.Beberapa bulan berselang, momen yang ditunggu-tunggu sekaligus menegangkan pun tiba. Di suatu dini hari di apartemen mereka, air ketuban Lucia mendadak pecah. Suasana tenang seketika berubah menjadi kepanikan luar biasa.Arthen yang biasanya selalu tenang memimpin ribuan karyawan di V-ACE, kini bertindak sangat panik. Pria tegap itu berlari kesana-kemari mengambil tas perlengkapan bayi, hampir menabrak pintu kamar, hingga memapah Lucia masuk ke dalam mobil dengan tangan yang gemetaran hebat.Di dalam ruang persalinan rumah sakit, ruang operasi riuh oleh suara rintihan
Kehidupan di apartemen Elysia berjalan sangat tenang dan hangat. Tanpa kilatan kamera jurnalis atau jadwal syuting yang memburu, Lucia menikmati hari-harinya dengan penuh kedamaian. Namun, kedamaian itu perlahan berubah menjadi kekacauan manis sejak suatu pagi ketika Lucia merasa mual luar biasa dan tubuhnya mendadak sangat lemas.Atas saran Sean—adiknya yang seorang dokter—melalui panggilan video, Lucia akhirnya melakukan tes kehamilan secara privat.Ketika dua garis merah tegas muncul di atas alat tes tersebut, Arthen Valerius—pria yang paling disegani di dunia bisnis Avantia—seketika membeku. Pria tegap itu berlutut di depan Lucia, menggenggam erat tangan istrinya dengan tubuh bergetar. Untuk pertama kalinya, mata elang Arthen yang biasanya dingin meneteskan air mata bahagia. Ia memeluk pinggang Lucia hangat, menyandarkan wajahnya di perut datar sang istri seraya berbisik penuh pengabdian dan rasa syukur.Namun, rasa haru itu hanya bertahan di minggu pertama. Begitu memasuki usia k
Gedung utama V-ACE Entertainment dipadati oleh ratusan wartawan dari berbagai media nasional dan internasional. Suasana ruang konferensi pers bergemuruh oleh bisik-bisik penasaran. Di atas panggung, Arthen Valerius berdiri tegap mengenakan setelan jas hitam elegan, berdampingan dengan manajer Lucia serta jajaran direksi agensi.Begitu Arthen melangkah mendekati mimbar dan menyesuaikan posisi mikrofoni, seluruh kilatan lampu kamera mendadak menyambar tanpa henti."Selamat siang semuanya," suara Arthen mengudara, berat, tenang, dan memancarkan wibawa yang tak tertandingi. "Saya berterima kasih atas kehadiran rekan-rekan media hari ini. Tanpa berbelit-belit, ada dua pengumuman resmi yang ingin saya sampaikan secara pribadi mewakili diri saya dan pihak agensi V-ACE."Arthen jeda sejenak, menatap lurus ke arah puluhan kamera yang menyorotnya."Yang pertama, mengenai rumor kehidupan pribadi aktris Lucia," ujar Arthen tegas. "Saya mengonfirmasi secara resmi bahwa Lucia telah sah menjadi istr
Malam Penganugerahan Avantia Film & Drama Awards berlangsung dengan amat megah. Gedung pertunjukan utama Avantia dipenuhi kilatan lampu kilat wartawan, karpet merah yang membentang luas, serta jajaran selebriti papan atas yang mengenakan gaun dan setelan terbaik mereka.Di kursi barisan paling depan, Lucia duduk anggun mengenakan gaun malam berwarna perak yang berkilau lembut diterpa cahaya lampu. Di sampingnya, Arthen Valerius—dengan setelan tuksedo hitam yang presisi—memegang jemari Lucia dengan hangat, memberikan genggaman erat yang menyalurkan ketenangan."Gugup, hm?" bisik Arthen lembut tepat di samping telinganya.Lucia menoleh, mengulas senyum tipis. "Sedikit. Bukan karena takut tidak menang, tapi karena mengingat seberapa jauh aku sudah berjalan sampai bisa duduk di kursi ini."Arthen tersenyum bangga, mengecup punggung tangan istrinya pelan. "Kamu sudah menang sejak kamu memutuskan untuk tidak menyerah, Lucia."Di atas panggung, dua pembawa acara legendaris Avantia membacakan
Perjalanan menuju desa tempat tinggal sang ibu terasa begitu hangat dan menyenangkan. Di dalam mobil mewah yang dikendarai oleh Sean, suasana riuh oleh tawa Mika—adik bungsu mereka yang kini tumbuh menjadi gadis remaja cantik nan berbakat di sekolah musik Avantia. Namun, kejutan terbesar hari itu adalah ketika Sean memperkenalkan sosok wanita anggun yang duduk di kursi penumpang depan.Lucia sampai dibuat melongo ketika menyadari siapa kekasih adiknya. Maya Clarissa—sang pembawa berita papan atas yang wajahnya saban hari menghiasi televisi nasional."Astaga, Sean! Kamu benar-benar luar biasa," goda Lucia dari kursi belakang sembari menepuk bahu adiknya. "Jadi wanita beruntung yang kamu sembunyikan selama ini adalah Maya? Pembawa berita kesayangan publik?"Maya yang duduk di sebelah Sean menyunggingkan senyum anggun, sedikit rona merah merayap di pipinya. "Halo, Kak Lucia. Maaf ya baru bisa berkenalan langsung secara pribadi. Sean selalu menceritakan hal-hal hebat tentang Kakak.""Just
Sinar matahari baru saja merayap di sela-sela tirai penthouse. Lucia duduk di tepi ranjang sembari memegang ponselnya, menempelkan benda tipis itu ke telinga. Suara nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya terdengar suara berat khas bangun tidur di ujung telepon."Halo, Kak..." suara Sean terdengar samar, diiringi helaan napas lelah.Lucia tersenyum tipis, mengetuk-etuk jemarinya di atas paha. "Sean? Kamu baru bangun? Maaf ya kalau Kakak mengganggu waktu istirahatmu.""Ngg... tidak apa-apa, Kak. Aku baru saja memejamkan mata sejam yang lalu setelah keluar dari ruang operasi. Ada apa, Kak?" tanya Sean, suaranya perlahan mulai lebih jernih."Begini, lusa Kakak ada libur dua hari sebelum jadwal pemotretan berikutnya. Kakak rencananya mau pulang ke desa, mengunjungi Ibu di rumah Bibi," ujar Lucia lembut. "Kakak mau mengajakmu pergi bersama. Sudah lama sekali kan kita bertiga tidak berkumpul?"Di ujung telepon, Sean terdengar menggeser posisinya dari atas kasur asrama rumah sa







