Teilen

Bab 130

last update Veröffentlichungsdatum: 18.04.2026 08:25:11

“Namanya Bella. Dia gadis yang sangat baik dan manis. Dia tidak suka sorotan media, jadi lebih memilih merahasiakan kehidupan pribadinya.”

Dimas berkata jujur. Dia tahu tak mungkin menyembunyikan fakta bahwa dirinya sudah punya pacar. Namun, soal Anin tidak ia ceritakan sebagai seorang aktris, cepat atau lambat namanya pasti akan terseret berbagai gosip. Dimas tak ingin keluarganya khawatir.

“Bella?” Pak Roy mengangkat alis. “Dia orang Jawa? Kapan kami bisa berte
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 148

    “Tentu, kami memiliki banyak agen, jadi kami bisa mencairkan cek itu dalam satu atau dua hari. Berapa yang ingin Anda tukarkan, Pak?” Ichigo bertanya sambil tersenyum. Ia bahkan tidak menyuruh Yaho duduk. Orang Jepang memang dikenal sangat sopan dan berbudaya, kadang terasa berlebihan. “Bagaimana kalau dua ratus juta rupiah?” Dimas bertanya. Ia ingin membeli oleh-oleh untuk seluruh keluarga dan teman-temannya. Selain itu, ia juga punya dua teman baru dari kampus, jadi rasanya tak pantas jika pulang tanpa membawa suvenir. “Pak? Itu setara dengan sekitar sebelas juta yen. Saya bisa memberikannya secara tunai atau langsung memasukkannya ke rekening bank rekan Anda, jadi bisa digunakan ke mana pun kalian pergi.” Ichigo berkata sambil dengan cepat menuliskan sesuatu. Bahkan sebelum Dimas menandatangani cek, Ichigo sudah yakin dengan identitas dan dana miliknya. Ia sudah melihat sendiri bagaimana Dimas bermain, dan

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 147

    Setelah mengunjungi tempat itu, Yaho membawa Dimas ke samping dan memberinya sesuatu untuk dimakan camilan manis dan kenyal yang disebut mochi. Dimas merasa rasanya enak sekali. Setelah itu, Yaho menyuruh sopirnya menyiapkan mobil. Ia ingin membawa Dimas ke tempat lain. Dimas mengangguk setuju. Ia memang tidak terlalu tertarik pada shogun Jepang, tapi kalau sampai dihadiahi istana seperti ini, itu urusan lain lagipula, pria mana yang tidak ingin punya kastil? Yaho membawa Dimas ke area parit. Tempat itu sangat indah. Dimas menyukai betapa artistiknya hasil karya orang-orang di abad pertengahan. Tak lama kemudian, mobil tiba di jalan terdekat untuk menjemput mereka. Yaho mengatakan sesuatu pada sopir dalam bahasa Jepang, dan sopir itu hanya mengangguk. “Kita bisa pergi minum teh sekarang. Teh yang sehat dan autentik, di Taman Hama-Rikyu,” kata Yaho. Lalu ia membawa Dimas ke tepi sungai, di mana

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 146

    “Eh! Aku kan nggak bilang apa-apa.” Dimas berkata sambil tersenyum, lalu menggaruk kepalanya dengan agak canggung. Kalau dipikir-pikir, situasinya memang sedikit memalukan. “Nama saya Nakayama Yaho.” Ia membungkuk cukup dalam, lalu berkata, “Mari kita berangkat. Saya akan mengantar Anda ke hotel sekarang. Barang bawaannya juga bisa saya bawakan.” Sambil berkata begitu, Yaho mencoba mengambil koper dari tangan Dimas. Namun Dimas menggeleng dan mengatakan kalau dia bisa membawanya sendiri. Yaho mengangguk sopan. Ia tidak memaksakan kehendaknya pada tamu. Setelah itu, ia berjalan di depan, dan Dimas mengikutinya dari belakang. Beberapa orang di bandara menoleh ke arah mereka ketika tiba-tiba empat petugas keamanan muncul entah dari mana dan langsung memberikan pengawalan khusus untuk Dimas. “Ini paket yang Anda pilih. Paket Anda adalah Ultra VIP.” Yaho berkata sambil memperhatikan e

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 145

    Dimas menghela napas. Dengan pemahaman polosnya, dia hanya bisa mengangguk lalu menuliskan cek untuk mereka. Ia memberikan cek senilai satu miliar rupiah, dan Anin menerimanya sambil tersenyum, lalu menunjukkannya pada Bella. Dimas tampak agak lelah dengan permainan kecil mereka. Ia pun duduk di sofa dan memesan makanan penutup ringan untuk dirinya sendiri. Karena ingin yang dingin, ia juga memesan es krim premium dari kedai es krim di lantai bawah. “Kamu pesan cuma buat diri kamu sendiri?” tanya Anin. Suaranya terdengar jauh lebih ceria dari sebelumnya. Ia duduk di samping Dimas, mengambil es krim itu untuk dirinya sendiri, bahkan memberikan sebagian pada Bella. Dimas mulai merasa frustrasi dengan tingkah mereka. Ia ingin pergi secepat mungkin dan kembali lagi saat suasana lengket itu sudah menghilang. “Aku pergi dan menginap di rumahmu malam ini. Kamu tetap di sini saja, Anin,” kata Dimas, la

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 144

    Dimas tersenyum, lalu meminta perawat membawa formulir untuk ditandatangani Anin. Tak lama kemudian, dokter datang dan membawa Anin ke ruang pemeriksaan. Dimas keluar dari bilik dan duduk di bangku ruang tunggu. Beberapa saat kemudian, dokter kembali dengan senyum tipis. Ia mengangguk pelan ke arah Dimas sebelum pergi lagi, karena masih banyak pasien lain yang harus ditangani. Dimas tersenyum sendiri. Ini memang di luar rencananya, tapi jelas sebuah kejutan yang menyenangkan. Sepertinya aku memang harus mulai lebih bertanggung jawab mulai sekarang. Tak lama kemudian, Anin diperbolehkan pulang. Dokter memberinya beberapa obat penenang ringan, vitamin yang baik untuk kondisinya, serta menyarankan agar Anin tidak minum alkohol atau merokok. Dimas dan Anin keluar lewat pintu belakang, karena cukup banyak orang yang menunggu Dimas di depan. Saat ini, dia sama sekali tidak ingin menghadapi siapa pun. Dimas langsung

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 143

    “Tentu saja tidak. Kamu itu segalanya buat aku. Tapi seperti yang sudah aku bilang, aku memang bikin kesalahan, dan itu nggak bisa dibereskan cuma dengan mutusin hubungan sama Bella. Dia bergantung sama aku. Aku salah ke kamu, dan aku minta maaf soal itu.” Dimas tahu dia tidak bisa begitu saja meninggalkan seseorang yang sangat bergantung padanya. Dalam hidupnya, orang itu sudah seperti sandaran. Jadi, mau tak mau, dia harus membicarakan semuanya dengan Anin sekarang. Perasaannya penuh rasa bersalah, tapi dia juga sadar hampir tidak ada yang bisa dia lakukan lagi. “Maaf itu memang bisa nyembuhin semuanya? Maksudku… apa kata maaf bisa nyatuin lagi kaca yang sudah pecah?” Anin bertanya tiba-tiba sambil menyeka air matanya. Padahal, selama ini dia dikenal sebagai perempuan yang percaya diri. Bagi Anin, Dimas juga adalah segalanya. Dia merasa tak sanggup hidup tanpa pria itu tapi apakah dia bisa bertahan dengan seseorang yang sudah mengkhiana

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 99

    “Jadi kamu sudah tahu, kan? Tenang saja, nanti aku kasih cek,” kata Dery sambil tersenyum. Penampilan Dimas hari ini benar-benar jauh melampaui perkiraan semua orang sampai-sampai bikin Ketua Nasional Junior tercengang. “Kamu tahu kan, pemilihan wali kota sebentar lagi? Gimana kala

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 91

    Dimas duduk santai di kursinya sambil memakan buah anggur di dalam pesawat. Tekanan G-force yang dulu sempat ia rasakan kini sudah hilang sama sekali tak ada rasa apa pun. Apa aku cocok ya kalau coba balap F1? Dimas terkekeh kecil dalam hati. Pikirannya perlahan kembali normal. Ia mencoba menikm

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 87

    Mobil ini pasti sangat berarti bagi Dimas. Namun, Novan tetap tenang sambil meminum air yang disodorkan temannya itu. "Begini, Novan," kata Dimas dengan nada santai, meski ada sedikit nada menggoda yang mengintip di baliknya. "Mobil ini memang berharga banget buat aku. Aku beli dar

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 86

    Novan kembali secepat yang dia bisa, Ritz Carlton Hotel adalah tempat peristirahatannya. Dimas, di sisi lain, duduk di dalam Mercedes mewahnya dan membiarkan si kembar mengemudi. "Jadi? Kakakmu sudah pergi? Apakah Coach Henry memintanya untuk melakukannya?" tanya Dim

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status