“Aku akan memeriksanya, jangan khawatir. Dia terlalu picik dan terlalu tua untuk paham bisnis jaman sekarang,” kata Henry sambil tersenyum. “Yah, sebenarnya dia nggak salah kok, kalau bukan saya yang dimaksud,” kata Dimas. Dia agak lega mendengar itu. “Yah, aku tinggalin dulu ya. Siap-siap jam tujuh nanti. Aku jemput sendiri, studionya tepat di sebelah stadion,” kata Henry. Sebelum keluar, dia berhenti sejenak dan menatap Dimas lurus ke mata. “Cuma satu: jangan sampai ketahuan.” Henry berkata begitu sambil nyengir, lalu keluar dari apartemen Dimas. “Huh! Kayaknya sudah waktunya aku ambil tanggung jawab lebih besar,” gumam Dimas dalam hati. Masih duduk di sofa, dia memikirkan Bella dan semua kejadian tadi. Matanya lalu tertuju pada cek yang tadi dia berikan ke Bella masih tergeletak di meja. Dimas mengambilnya, merobeknya, lalu menulis cek baru sebesar Rp200.000.000 untuk Bella dan langsung meneleponnya.
Read more