Senyum Ibu Suri tetap terpasang, tetapi matanya tidak lagi hangat.“Ratu yang bijak,” ucapnya perlahan, “mengerti kapan ia harus terlihat, dan kapan ia harus menunggu. Terlebih ketika Kaisar tidak berada di istana. Kepergianmu malam ini… bisa menimbulkan banyak tafsir.”Lorenne tidak langsung menjawab. Ia tahu ini bukan sekadar percakapan ringan di lorong istana. Setiap kata yang terucap akan diingat. Setiap nada akan ditimbang.“Tafsir lahir dari niat orang yang menafsirkan,” jawabnya tenang. “Bukan dari langkah saya.”Alis Ibu Suri terangkat tipis. “Kau masih melihat dunia dengan terlalu lurus, Lorenne. Istana tidak bekerja sesederhana itu. Kadang, bahkan ketidakhadiran kecil dapat dimaknai sebagai kelemahan.”“Kelemahan?” Lorenne mengulang dengan suara lembut, namun jelas. “Apakah menjalankan urusan keluarga tanpa membebani Kaisar disebut kelemahan?”“Seorang Ratu tidak bergerak sendiri,” balas Ibu Suri cepat. “Ia adalah bayangan Kaisar. Jika bayangan itu berjalan tanpa cahaya, ora
Last Updated : 2026-02-19 Read more