Suara Lorrene yang akhirnya terdengar di dalam aula itu tidak tinggi, tidak pula dipenuhi amarah. Ia berbicara dengan tenang, hampir datar, seolah semua tekanan yang sejak tadi diarahkan padanya tidak benar-benar menyentuhnya. Namun justru karena itulah, setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa jauh lebih tajam, mengiris tanpa perlu ditinggikan.Kalimatnya menggantung di udara.Dan untuk sesaat, tidak ada yang menjawab.Beberapa bangsawan benar-benar terdiam, sementara yang lain tampak menahan reaksi mereka, menjaga ekspresi agar tetap terkendali meskipun jelas ada sesuatu yang mulai bergeser dari arah yang mereka harapkan.Helena tidak membiarkan keheningan itu berkembang terlalu lama.“Kau merasa seperti itu,” ucapnya dingin, “karena kau memang ratu yang tidak tahu bagaimana harus bersikap di tempat seperti istana.”Nada suaranya tetap tenang, namun kini mengandung penilaian yang tidak lagi disembunyikan.Lorrene menatapnya sejenak, tanpa tergesa, tanpa emosi yang berlebihan. La
Read more