Count Valgard menatap putrinya cukup lama, seolah waktu di dalam ruangan itu berhenti hanya untuk memberi ruang pada keputusan yang harus ia ambil. Tatapannya tidak hanya tertuju pada wajah Roseane, tetapi seakan menembus lebih dalam mencari keyakinan, atau mungkin sekadar memastikan bahwa mereka masih berada di sisi yang sama.Roseane tidak mengalihkan pandangannya dan untuk pertama kalinya, tidak ada keraguan di sana. Hanya ketegangan yang telah mengeras menjadi kesiapan.Perlahan, Count Valgard mengangguk.Gerakannya kecil, nyaris tak terlihat, namun dampaknya menjalar ke seluruh ruangan seperti riak yang tak terhindarkan.“Calix benar,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah namun mantap. “Kita tidak boleh terlambat.”Ia menarik napas panjang, lalu menegakkan tubuhnya. Dalam satu gerakan itu, ia kembali menjadi sosok yang selama ini mereka kenal tegas, terukur, dan tidak memberi ruang bagi keraguan, meskipun badai sedang mengintai di sekelilingnya.“Mulai sekarang,” lanjutnya, matanya
Read more