Reis terdiam setelah kalimat terakhirnya sendiri menggantung di udara. Ia tidak langsung bergerak, tidak pula melepaskan genggaman tangannya pada Lorrene. Untuk sesaat, ruang kerja itu terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah bahkan udara pun menahan diri agar tidak mengganggu apa yang baru saja terungkap.Tatapannya perlahan bergeser, tidak lagi setajam saat berada di aula sidang, melainkan lebih dalam—dan untuk pertama kalinya, tidak sepenuhnya tersembunyi. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang selama ini ia simpan terlalu lama.“Dia… memang tidak pernah bisa melepaskanku.”Suara itu keluar pelan, hampir seperti gumaman, namun cukup jelas untuk didengar. Tidak ada kemarahan, tidak ada penolakan. Hanya kenyataan yang diakui apa adanya.Lorrene tidak menyela. Ia hanya berdiri di hadapannya, diam, membiarkan Reis berbicara dengan caranya sendiri sesuatu yang jarang ia lakukan, dan mungkin hanya terjadi di saat-saat seperti ini.Reis menghela napas tipis, lalu melanjutkan, “Sejak ibuku meni
Read more