Lorrene mengangkat sedikit alisnya, menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak, lalu menghela napas ringan.“Sayangnya… itu benar,” jawabnya akhirnya.Reis tersenyum tipis.Bukan senyum penuh, bukan pula sesuatu yang mencolok namun cukup untuk mengubah suasana di antara mereka menjadi lebih ringan dari sebelumnya.Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara lagi.Reis tersenyum tipis, sorot matanya berubah lebih dalam, lebih tajam dari sebelumnya. Tanpa memberi peringatan, ia kembali mendekat, dan dalam satu gerakan yang nyaris tidak memberi ruang untuk diantisipasi, posisinya sudah berubah.Lorrene sempat terkejut.Bukan karena ia tidak bisa menebak arah situasi, melainkan karena kecepatan dan kepastian gerakan itu. Dalam sekejap, Reis sudah berada di atasnya, menahan tubuhnya dengan ringan namun tegas, seolah memastikan bahwa tidak ada jarak yang tersisa di antara mereka.“Apa yang Anda lakukan, Yang Mulia?” tanya Lorrene, suaranya tetap terjaga meskipun napasnya sedikit berubah.Reis
Read more