Ruangan itu terasa lebih sempit dari biasanya, seolah udara di dalamnya ikut menahan napas bersama dua orang yang berdiri saling berhadapan. Di atas meja, botol-botol obat masih tersusun rapi, namun kini tidak lagi terlihat seperti sesuatu yang menyembuhkan. Cahaya siang yang masuk dari jendela membuat cairan di dalamnya berkilau samar tenang, tetapi menyimpan sesuatu yang kotor.Lorrene tidak mengalihkan pandangannya dari sana. Tatapannya datar, namun terlalu lama untuk sekadar melihat. Siena berdiri di samping meja, memperhatikannya tanpa suara. Ia tahu kapan harus berbicara, dan kapan harus menunggu.“Kalau kau mau,” ucapnya akhirnya, pelan namun jelas, “kita bisa membuat mereka merasakan hal yang sama.”Lorrene tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap botol-botol itu, seolah kata-kata tadi hanya lewat begitu saja. Namun beberapa detik kemudian, ia mengangkat pandangannya dan menatap Siena.Tidak ada keterkejutan di wajahnya.Hanya kelelahan yang berubah menjadi sesuatu yang lebih
Mehr lesen