Lorrene menatap Roseane lurus-lurus, lalu akhirnya menyesap sedikit anggurnya. Gerakannya tenang, seolah tidak ada satu pun kata barusan yang mengusiknya. Setelah itu, ia meletakkan kembali gelasnya dengan hati-hati.“Begitukah?” ujarnya ringan. “Kalau begitu, aku justru senang datang.”Roseane mengerjap, jelas tidak menyangka reaksi itu.“Bukankah lebih menarik,” lanjut Lorrene, suaranya lembut namun tajam, “menghadapi kejutan secara langsung daripada bersembunyi darinya?”Senyum Roseane sedikit menegang. Untuk sesaat, topeng ramahnya hampir runtuh namun ia segera menutupinya kembali dengan tawa kecil.“Kau selalu berani,” katanya, meski nadanya terdengar dipaksakan.Lorrene membalas senyum itu, kali ini dengan ketenangan yang membuat dadanya sendiri terasa dingin.“Di istana ini,” pikirnya, “yang tidak berani… hanya akan dimakan hidup-hidup.”Dan jika memang hari ini adalah panggung yang disiapkan untuk menjatuhkannya, maka Lorrene Valgard berniat berdiri di tengahnya bukan sebagai
Terakhir Diperbarui : 2026-01-23 Baca selengkapnya