Lorrene menahan diri untuk tidak bereaksi. Ia melangkah maju dengan sikap yang pantas, lalu membungkuk memberi salam sebagaimana mestinya.“Yang Mulia Ibu Suri,” katanya tenang, “saya datang untuk membicarakan perjamuan penobatan.”Helena tersenyum lebih lebar, matanya menyipit tipis. “Tentu saja,” balasnya. “Aku sudah menduganya. Mengelola jamuan istana bukan perkara sederhana, apalagi untuk seseorang yang baru memasuki dunia ini.”Nada itu halus, namun jelas meremehkan.Lorrene mengangkat wajahnya, menatap Helena tanpa gentar. “Itulah sebabnya saya datang,” ujarnya. “Bukan karena saya tidak mampu belajar, melainkan karena saya ingin memastikan penobatan berjalan tanpa cela.”Helena terkekeh pelan, seperti seorang guru yang mendengar alasan muridnya. “Bijaksana,” katanya. “Sangat bijaksana.”Ia lalu memberi isyarat kecil, dan pelayan segera menyajikan teh. Uap hangat naik perlahan, mengisi keheningan yang tegang di antara mereka.“Namun katakan padaku, Lorrene,” lanjut Helena sambil
Terakhir Diperbarui : 2026-02-02 Baca selengkapnya