Kata itu kembali milikku jatuh begitu saja, tanpa emosi berlebih, namun cukup untuk membuat dada Lorrene menghangat sekaligus menegang. Ia tidak membantah. Hanya mengangguk pelan, menerima kalimat itu seperti ia menerima takdirnya sejauh ini: dengan kewaspadaan dan kesadaran penuh.Lorrene menarik napas kecil, seolah baru menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.“Apakah saya tidak perlu melepas kepergian Anda?” tanyanya, berusaha menjaga nada tetap netral, meski matanya tak sepenuhnya berani menatap lurus.Reis berhenti melangkah. Sudut bibirnya terangkat, bukan senyum dingin seorang kaisar, melainkan senyum tipis yang nyaris jahil.“Aku rasa kau tidak akan kuat berdiri,” katanya santai, “setelah membuatku senang seperti ini.”Kalimat itu jatuh begitu saja, ringan, namun menghantam tepat sasaran.Wajah Lorrene memanas seketika. Warna merah menjalar dari pipinya hingga ke telinga. Ia menunduk, jari-jarinya mencengkeram selimut tanpa sadar. Ada rasa jengkel, malu, dan sesuatu yang membu
Terakhir Diperbarui : 2026-01-29 Baca selengkapnya