Calix tertegun.Bukan hanya oleh jawabannya, tetapi oleh cara Lorrene berbicara formal, dingin, dan sepenuhnya tanpa celah bagi kenangan lama. Ia bukan lagi wanita yang pernah berdiri di sisinya, bukan pula calon istrinya yang dahulu.“Lorrene,” kata Calix lagi, sedikit menurunkan suaranya. “Kita sudah saling mengenal lama. Kita bahkan hampir menikah. Kau tidak perlu bersikap seformal itu padaku.”Tatapan Lorrene mengeras, meski wajahnya tetap tenang.“Semua itu sudah berlalu, Yang Mulia,” jawabnya. “Dan sekarang, tidak pantas bagi saya dan Anda untuk berbicara terlalu jauh. Saya adalah istri Yang Mulia Kaisar.”Essel sedikit memiringkan kepala, senyumnya masih terpasang, seolah menikmati percakapan itu sebagai tontonan.Calix menghela napas pelan. “Aku tahu,” katanya. “Apakah ini karena kau takut pada Yang Mulia Kaisar?”Lorrene menatapnya lurus, tanpa gentar. “Saya tidak takut,” katanya tegas. “Saya menghormati beliau. Sebagai suami saya, dan sebagai Kaisar.”Jawaban itu membuat Cal
Terakhir Diperbarui : 2026-01-28 Baca selengkapnya