Sebuah tangan menangkap pergelangan tangannya dengan kasar.Lorrene tersentak, napasnya tercekik. Tubuhnya tergantung di udara, separuh sudah melewati balkon, jantungnya nyaris berhenti berdetak.Tangannya gemetar hebat.“Pegang aku!” suara itu menggema keras, tegang, marah, panik.Reis.Ia muncul dari jendela samping balkon, jasnya terbuka, wajahnya pucat namun matanya menyala tajam. Satu tangannya mencengkeram Lorrene sekuat tenaga, tangan lainnya mencengkeram tiang jendela, otot lengannya menegang sampai bergetar.Lorrene mencoba bicara, tapi suaranya tidak keluar. Air mata menggenang tanpa ia sadari.“Aku di sini,” kata Reis cepat, napasnya memburu. “Jangan lepaskan tanganku. Jangan.”Tangannya licin, keringat bercampur dingin malam.Helena membeku.Wajahnya berubah seketika. Senyum hilang. Matanya melebar.“Reis, aku—”“DIAM.”Suara Reis meledak.Untuk pertama kalinya, suaranya mengguncang udara dengan keras, penuh amarah, tanpa sisa kelembutan.Ia menarik Lorrene sedikit demi se
Last Updated : 2026-02-10 Read more