Akhirnya senopati itu duduk satu meja denganku, dia ingin ikut aku sarapan dan bodohnya dayangku justru mempersilakan pria itu untuk sarapan bersamaku. Aku melotot ringan pada pelayanku itu.'Maaf, Putri,' kata pelayanku dengan nada sangat rendah.Aku hanya menyeringai tipis, "Tinggalkan kami!"Dayang Sani merendahkan tubuhnya menyamping, sikap hormat ala pelayan yang pamit undur diri pada majikannya. Aku mengangguk."Silakan dimulai sarapannya, Tuan Ranggalawe," ucap ku sedikit canggung.Dia tersenyum tipis, lalu bangkit dari duduknya. Berjalan menuju ke arahku, berdiri diam tepat di samping kepalaku. Kemudian membungkuk hingga hembusan napasnya menyentuh ujung kepalaku.Aroma khas ini seperti pernah kucium di dunia modern, seperti milik Samuel Ortega. Aku menggelang, menolak indera penciumanku."Apa kau melupakan kisah kita malam itu, Putri?"Kalimat mematikan itu keluar, jantungku seketika berhenti. Aku mendongak, menatap pada sosok dingin dan sungguh ini di luar dugaanku. Kedua ma
Read more