Mag-log inAku terdiam cukup lama, menunggu jawaban dari pria ini. Hening, tenang. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.Ada sesuatu yang sejak tadi mengusik pikiranku—lebih dalam dari sekadar sidang, lebih tajam dari sekadar bisikan istana. Dan kali ini … aku tidak ingin menghindarinya lagi.Langkah itu sangat jelas siapa pemiliknya. Langkah yang semakin dekat, tetapi terhenti di sana. Di balik pilar yang ke sekian, dan cukup terjangkau untuk pria itu melihat seluruh aktifitasku di sini, bersama pamannya. “Ranggalawe,” panggilku pelan, namun nadanya berbeda. Lebih tegas.Ia menatapku, menyadari perubahan itu.“Ada yang ingin kutanyakan.”Ia tidak langsung menjawab, hanya mengangguk kecil. “Tanyakan.”Aku menarik napas panjang. Lalu langsung menatap matanya. “Dunia modern itu.”Hening.Untuk pertama kalinya sejak ia duduk di hadapanku, sorot mata Ranggalawe berubah. Tipis.Hampir tak terlihat. Namun, aku menangkapnya. "Apakah kau juga di sana?" “Kau tahu tentang itu, bukan?” lanjutku, kal
POV GendhisAku mengembuskan napas panjang, membiarkan sisa-sisa ketegangan dari ruang sidang perlahan luruh bersama angin sore. Kutinggalkan ruang itu setelah kepergian Ranggalawe tanpa menoleh lagi meskipun suara Anusapati terus menyebut namaku. Aku tidak peduli. Akhirnya langkahku sampai di depan istana keputren khusus milikku dan pelayan setiaku sudah menyambutku di depan pintu. Dia tersenyum ragu saat melihatku sudah datang, tubuhnya membungkuk sesaat lalu membukakan pintu itu. "Apakah putri ingin segera berendam atau istirahat dulu?" tanya dia dengan nada rendah. "Lebih baik kau siapkan air hangat untuk putri kita membersihkan diri dan segarkan otaknya. Benar begitu 'kan, Putri?" jawab dan tanya pelayan yang sejak tadi mengikutiku. Sementara pelayan yang lain justru menatapku bingung, aku mengangguk padanya. Wanita sederhana itu memberi hormat sekilas padaku, baru berbalik untuk melakukan apa yang disarankan rekannya itu. Aku duduk menunggu semua siap, tidak butuh waktu lam
"Satu lagi, aku hamil dan ini bukan milikmu!" Djer! Bagai petir menyambar tubuhku, aku tersentak. Kata-kata itu jatuh begitu saja, tanpa peringatan. Nada bicaranya pun begitu tegas dan dingin. Namun, dampaknya menghancurkan segala yang tersisa dalam diriku.“Hamil?” Suaraku keluar lirih, nyaris tak terdengar. Namun, gema dari kata itu terus berulang di kepalaku, memukul tanpa ampun.Mungkinkah benih itu dari pamanku? Atau justru dari pria lain. Bukankah selama beberapa bulan ini dia sering menghilang entah kemana. Tiba-tiba muncul dengan pakaian yang berbeda bukan dari bangsa kami. Seolah Gendhis bisa menjelajah waktu. Pernah aku melihatnya masuk ke sebuah lingkaran bercahaya dan aku pun pernah mengikutinya. Namun, lingkaran itu menghilang. Kutatap lebih dalam kedua manik matanya, tidak ada kerinduan di sana. Dadaku mengencang, napasku tercekat di tenggorokan melihat semua itu. Ada sesuatu yang retak—bukan di luar, tapi di dalam diriku sendiri.Dan sebelum aku sempat memproses sem
Langkahku terhenti beberapa meter dari mereka.Suara napasku terasa lebih berat dari seharusnya, seolah setiap detik yang berlalu menarik sesuatu dari dalam dada. Kata-kataku menggantung di udara malam yang dingin dan tajam, penuh tuduhan yang bahkan belum sempat dibantah.Mendengar suaraku, Gendhis seketika bangkit. Gerakannya tenang, tanpa tergesa. Tidak ada keterkejutan di sana, tidak pula kegugupan seperti yang mungkin kuharapkan. Dia berdiri tegak, menatapku lurus tanpa bertanya dan berusaha menjelaskan, ataupun berusaha membela diri.Itulah yang justru membuat dadaku terasa sesak. Begitu tenang, tidak riak di sorot matanya. Perlahan, ia melangkah mundur.Bukan menjauh dariku sepenuhnya, tetapi lebih mendekat ke arah Ranggalawe yang masih duduk dengan sikap tenang. Dadaku terasa sesak, keduanya terlihat seakan sudah memperkirakan kedatanganku sejak awal.Jarak di antara keduanya menyempit. Sementara jarakku dengannya terasa makin jauh.Bibir itu bergerak, pelan dengan ritme yang
"Pangeran." Suara Zahra menyadarkan ku. Jarinya sudah bermain di dadaku. Aku mencoba menepis setiap sentuhan Zahra.Jari-jarinya yang semula hanya bermain di dadaku mulai merayap lebih pelan, lebih terarah—seolah ia memahami betul bagian mana yang mampu meruntuhkan pertahananku. Aku menarik napas panjang, menahan diri. Tanganku sempat menangkap pergelangannya.“Cukup, Zahra.” Nada suaraku tegas, tapi tidak cukup kuat.Zahra tidak melawan. Ia justru tersenyum kecil, matanya meredup penuh arti. Perlahan, ia melepaskan tangannya dari genggamanku, hanya untuk berpindah ke titik lain. Ujung jarinya menyentuh leherku, menelusuri garisnya dengan lembut, nyaris seperti bisikan yang tak bersuara.Tangannya terus bermain di sana, menggerakkan jakun milikku. Perlahan tapi pasti sesuatu mulai melarap di bawah alam sadarku. Bibirku melenguh lirih membuat senyum di bibir Zahra muncul begitu puas. “Apa Pangeran benar-benar ingin berhenti? Lepaskan semua beban itu," gumamnya pelan di dekat telingaku
Aku masih teringat peristiwa siang itu, kalimat Gendhis sangat mengganggu pikiranku hingga semua kembali berputar seakan aku melihat kejadian nyata. “Kehormatan atau penghinaan?”Sengaja Gendhis menggantung kalimat untuk mengetahui reaksi kami, tajam seperti ujung pisau yang sering menggores luka di hatiku. Tidak ada yang langsung menjawab, hening. Bahkan Ibu Suri pun terdiam sesaat, meski sorot matanya masih penuh amarah.Ruang sidang kembali dipenuhi bisik-bisik pelan para bangsawan yang hadir. Mereka sengaja diundangkan oleh ibu Suri guna memojokkan istriku. Mereka hanya saling bertukar pandang, seolah tidak percaya menantu yang dulu bisu dan penurut telah berani berbicara sejauh ini di hadapan Raja dan bahkan mendorongnya. Aku berdiri tegak, menahan segala getaran di dalam tubuhku. Dua sudah sejauh ini. Sakan tidak ada jalan untuk mundur.“Cukup.”Suara Raja Gunadarma memecah keheningan. Berat. Lelah.Semua kembali diam.Beliau menatapku lama, lalu beralih padaku yang masih ber
"Jangan terlalu dipikirkan apa yang aku lakukan." Suara ini membuyarkan lamunan ku dan kepalaku langsung menoleh ke sumber suara. Betapa terkejutnya aku saat mendapati kedua mata biru itu terbuka dengan senyum khas terukir di wajah tampan Ortega. "Kau sudah sadar, Ortega?"Tidak kusadari panggilan
Tanpa bersuara, Ranggalawe terus menatap semua yang hadir. Auranya dapat kurasakan begitu kuat seakan ingin menelan semua yang ada. Aku masih diam menunggu. Perlahan tapi pasti nyali semua yang hadir menghilang, aku termangu. "Baiklah, kami pergi, tetapi ingat satu hal. Satu hari kami datang menun
Apa yang terjadi dengan suaraku, kemana perginya? berbagai pertanyaan muncul di otakku. Baru saja kuungkap suaraku, kini sudah menghilang lagi. Aku menekan leherku dan melihat ke arah gelas yang tadi sempat kureguk airnya. Lalu melihat ke arah Siska yang duduk di samping kananku.Tatapanku membawa
'Selamat pintu portal melebar hingga 75%!'Aku seketika tersentak, berita ini bagai angin segar menerpa wajahku yang lelah. Satu keajaiban datang secara bertubi masih dalam satu waktu. Ini keberuntungan atau kebuntungan?Peristiwa pertentangan dan perebutan justru membawa manfaat buatku, sungguh di







