Aku menarik napas panjang. Dalam. Menahan semua gemuruh yang hampir pecah di dadaku.“Cukup.”Suaraku tidak keras, tapi cukup untuk memotong ketegangan di antara kami. Kedua pria itu terdiam—untuk sesaat—seolah memberi ruang pada kata yang baru saja keluar dari bibirku.Aku membuka mata, menatap lurus ke arah Anusapati.“Pergi.”Hanya satu kata. Namun kali ini, tidak ada keraguan di dalamnya.Sorot mata Anusapati berubah. Ada sesuatu yang retak di sana—amarah, keterkejutan, mungkin juga luka yang tak sempat ia sembunyikan. Tapi aku tidak lagi goyah.“Aku tidak akan ikut denganmu,” lanjutku, lebih tenang. “Apa pun yang kau janjikan… sudah terlambat.”Rahangnya mengeras. “Gendhis—”“Aku sudah memilih,” potongku.Meski, jauh di dalam hati… aku tahu pilihanku belum sepenuhnya jelas.Di sampingku, Ranggalawe bergerak sedikit. Kehadirannya terasa—tenang, kokoh, seperti tembok yang tak mudah runtuh. Tangannya kembali menyentuh bahuku, bukan menahan, tapi seolah memastikan aku tidak berdiri s
Read more