Share

74.

Penulis: Shaveera
last update Tanggal publikasi: 2026-05-08 21:59:55

“Dua jiwa… satu tubuh.”

Kalimat itu masih menggantung di kepalaku.

Berat.

Menghantam tanpa ampun.

Aku menarik napas, tapi terasa sesak. Seolah udara di ruangan ini tidak lagi cukup untuk paru-paruku. Tanganku masih berada di perutku, tepat di bawah sentuhan Ranggalawe yang perlahan menjauh. Seolah ia sadar, batas itu kini bukan lagi sekadar fisik.

Melainkan sesuatu yang jauh lebih rumit. Aku menunduk. Menatap perutku sendiri. Hanya sesaat, lalu kembali menatap wajah itu, pria yang sudah membuat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   74.

    “Dua jiwa… satu tubuh.”Kalimat itu masih menggantung di kepalaku.Berat.Menghantam tanpa ampun.Aku menarik napas, tapi terasa sesak. Seolah udara di ruangan ini tidak lagi cukup untuk paru-paruku. Tanganku masih berada di perutku, tepat di bawah sentuhan Ranggalawe yang perlahan menjauh. Seolah ia sadar, batas itu kini bukan lagi sekadar fisik.Melainkan sesuatu yang jauh lebih rumit. Aku menunduk. Menatap perutku sendiri. Hanya sesaat, lalu kembali menatap wajah itu, pria yang sudah membuatku berkelana dalam mimpi. “Siapa kau?” bisikku lirih. Bukan pada diriku. Bukan pula untuk Ranggalawe.Tapi pada kehidupan kecil yang kini tumbuh di dalamku. Seketika, bayangan itu datang.Sentuhan yang berbeda dan sama-sama nyata.Anusapati—kasar, penuh kuasa, menyentuhku seolah aku adalah miliknya sejak awal. Tidak memberi ruang. Tidak memberi pilihan. Lalu—Samuel, dia lembut, hangat.Seolah aku adalah sesuatu yang harus dijaga, bukan dimiliki. Jantungku berdebar lebih keras.Dua pria.Dua ra

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   73.

    Duniaku berputar saat kata itu kembali kudengar. Satu kata yang mampu melambungkan anganku dengan ketegasan yang begitu mirip akan sosok Samuel Ortega. Iya, pria itu sedikit banyak telah mempengaruhi hidupku. Jiwanya yang tenang dan bergerak tanpa rencana, tetapi mampu menguasai seluruh masalahku tanpa sisa. Tubuhku masih terasa lemah. Namun, sebelum lututku benar-benar menyerah, sebuah tangan lebih dulu menahan lenganku.Hangat.Kokoh. Dan … hati-hati.Aku sedikit terkejut.Ranggalawe.Biasanya sentuhannya tegas, hampir selalu mengandung kontrol—seolah aku adalah sesuatu yang harus dijaga jaraknya. Tapi kali ini … berbeda. Sentuhan ini lebih mirip pada sosok itu—Samuel Ortega. Ranggalawe berbeda, caranya menyentuhku sangat jauh berbeda. Netapi, kali ini sepertinya buka miliknya. Dia tidak mencengkeram lenganku lalu menopang lembut. “Duduklah,” ucapnya pelan.Bukan perintah. Kalimatnya sangat lembut dan dominan, tetapi ini lebih seperti permintaan yang disertai cinta kasih tulus.

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   72.

    Aku menarik napas panjang. Dalam. Menahan semua gemuruh yang hampir pecah di dadaku.“Cukup.”Suaraku tidak keras, tapi cukup untuk memotong ketegangan di antara kami. Kedua pria itu terdiam—untuk sesaat—seolah memberi ruang pada kata yang baru saja keluar dari bibirku.Aku membuka mata, menatap lurus ke arah Anusapati.“Pergi.”Hanya satu kata. Namun kali ini, tidak ada keraguan di dalamnya.Sorot mata Anusapati berubah. Ada sesuatu yang retak di sana—amarah, keterkejutan, mungkin juga luka yang tak sempat ia sembunyikan. Tapi aku tidak lagi goyah.“Aku tidak akan ikut denganmu,” lanjutku, lebih tenang. “Apa pun yang kau janjikan… sudah terlambat.”Rahangnya mengeras. “Gendhis—”“Aku sudah memilih,” potongku.Meski, jauh di dalam hati… aku tahu pilihanku belum sepenuhnya jelas.Di sampingku, Ranggalawe bergerak sedikit. Kehadirannya terasa—tenang, kokoh, seperti tembok yang tak mudah runtuh. Tangannya kembali menyentuh bahuku, bukan menahan, tapi seolah memastikan aku tidak berdiri s

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   71.

    Dia bergeming, masih menatapku penuh tanya. Hingga akhirnya kalimat itu terucap, jelas dan singkat. “Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan?”Nada itu tajam.Penuh tuduhan.Membuatku menutup mata sesaat. Anusapati. Mantan suamiku.Aku menatap lurus ke depan. Ke arah pria yang dulu pernah menjadi pusat hidupku. Kini … hanya bagian dari masa lalu.“Tidak ada yang kami sembunyikan,” ucapku tenang.Tatapan Anusapati menajam. “Jangan bohong, Gendhis.”Aku tidak menghindar. Tidak juga menunduk seperti dulu. Sebaliknya, aku menahan tatapannya—mantap, tanpa ragu.Ada jeda sejenak. Cukup untuk membuat udara di sekitar kami terasa lebih berat.Lalu, tanpa berputar-putar lagi, aku berkata, “Aku hamil.”Sunyi. Benar-benar sunyi.Bahkan angin seolah berhenti berembus. Aku bisa melihat perubahan itu di wajah Anusapati—kejutan, ketidakpercayaan, lalu sesuatu yang lebih gelap yang perlahan muncul ke permukaan. Namun, kali ini … aku tidak mundur.Tanganku terangkat perlahan, menyentuh perutku sendiri—

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   70.

    Aku terdiam cukup lama, menunggu jawaban dari pria ini. Hening, tenang. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.Ada sesuatu yang sejak tadi mengusik pikiranku—lebih dalam dari sekadar sidang, lebih tajam dari sekadar bisikan istana. Dan kali ini … aku tidak ingin menghindarinya lagi.Langkah itu sangat jelas siapa pemiliknya. Langkah yang semakin dekat, tetapi terhenti di sana. Di balik pilar yang ke sekian, dan cukup terjangkau untuk pria itu melihat seluruh aktifitasku di sini, bersama pamannya. “Ranggalawe,” panggilku pelan, namun nadanya berbeda. Lebih tegas.Ia menatapku, menyadari perubahan itu.“Ada yang ingin kutanyakan.”Ia tidak langsung menjawab, hanya mengangguk kecil. “Tanyakan.”Aku menarik napas panjang. Lalu langsung menatap matanya. “Dunia modern itu.”Hening.Untuk pertama kalinya sejak ia duduk di hadapanku, sorot mata Ranggalawe berubah. Tipis.Hampir tak terlihat. Namun, aku menangkapnya. "Apakah kau juga di sana?" “Kau tahu tentang itu, bukan?” lanjutku, kal

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   69.

    POV GendhisAku mengembuskan napas panjang, membiarkan sisa-sisa ketegangan dari ruang sidang perlahan luruh bersama angin sore. Kutinggalkan ruang itu setelah kepergian Ranggalawe tanpa menoleh lagi meskipun suara Anusapati terus menyebut namaku. Aku tidak peduli. Akhirnya langkahku sampai di depan istana keputren khusus milikku dan pelayan setiaku sudah menyambutku di depan pintu. Dia tersenyum ragu saat melihatku sudah datang, tubuhnya membungkuk sesaat lalu membukakan pintu itu. "Apakah putri ingin segera berendam atau istirahat dulu?" tanya dia dengan nada rendah. "Lebih baik kau siapkan air hangat untuk putri kita membersihkan diri dan segarkan otaknya. Benar begitu 'kan, Putri?" jawab dan tanya pelayan yang sejak tadi mengikutiku. Sementara pelayan yang lain justru menatapku bingung, aku mengangguk padanya. Wanita sederhana itu memberi hormat sekilas padaku, baru berbalik untuk melakukan apa yang disarankan rekannya itu. Aku duduk menunggu semua siap, tidak butuh waktu lam

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   36. Pelaku Berbelok

    Mobil terus melaju di kendarai oleh Siska, aku melihat ke samping sepanjang jalan menuju ke lokasi yang dimaksud dalam rekaman vidio. Ada yang aneh dari perjalanan ini, bagaimana bisa Siska selancar ini menjalankan kendaraan menuju ke lokasi itu. Ini aneh bagiku, aku tetap diam sambil mengirim siny

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   36. Ternyata

    Aku terbangun dari tidur panjang saat kurasakan wajahku disiram dengan air dingin. Siraman air itu tidak hanya pada wajahku saja melainkan hingga setengah badan. Perlahan kubuka kedua mataku, tatapanku langsung bertemu dengan dua manik hitam milik Aurel. Wanita itu menyeringai sinis menatap keadaan

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   32. Pilihan Yang Sulit

    Cukup lama aku menunggu jawaban dari pria itu, tetapi dia justru mengingatkan aku akan kejadian awal aku masuk kedunia modern. Aku hanya mengulum senyum saja tanpa bersuara. "Mengapa juga Tuan Senopati harus menolongku jika untuk menanyakan hal ini?""Karena aku merindukan kebersamaan kita di Bala

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   33. Makin Terjepit

    Tawa Sagara justru makin terbahak dengan tatapan yang masih hangat tertuju ke arahku. Aku bungkam. Tatapan ku lurus ke arah manik mata hitam yang penuh misteri. Jika jiwa ini pemilik tubuh mungkin saja dia sudah meleleh mendapatkan perhatian yang sedemikian rupa, tetapi sayangnya saat ini tubuh in

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status