Lampu restoran itu tidak terlalu terang. Cahaya kekuningan lembut, musik jazz mengalun pelan, cukup untuk menciptakan suasana tenang tanpa terasa berlebihan. Nizam memilih tempat itu dengan pertimbangan matang, tidak terlalu ramai, tidak terlalu sepi, netral dan aman. Namun ternyata, semua perhitungan itu runtuh begitu Inara duduk di hadapannya. Mereka duduk berhadapan bukan sebagai atasan dan bawahan, tidak ada map, tidak ada laptop dan tidak ada agenda rapat. Hanya dua piring kosong, dua gelas air dan dua orang yang sama-sama gugup tapi berpura-pura tenang. Inara meremas jemarinya di bawah meja, ia tersenyum kecil, sopan, tapi matanya sesekali melirik ke sekeliling, lalu kembali ke wajah Nizam. Nizam sendiri duduk tegak, terlalu tegak seolah sedang presentasi di depan investor. “Tempatnya… nyaman ya,” ucap Inara akhirnya, memecah keheningan. “Iya,” jawab Nizam ce
Last Updated : 2026-01-25 Read more