Kata-kata Inara masih bergema di kepala Nizam bahkan setelah perempuan itu meninggalkan ruangannya. Ia kembali duduk di kursi kerjanya, menatap jendela besar yang menghadap kota. Langit siang itu cerah, kontras dengan dadanya yang terasa penuh. Setelah sekian lama, Nizam tidak langsung memikirkan angka, target, atau kontrak. Ia memikirkan Akbar, adik yang baginya hanya bisa bersenang senang. "Berproses, Pak… semua juga dulu tidak tahu apa-apa." Nizam menghela napas panjang. Ia sadar, mungkin selama ini ia terlalu keras bukan hanya pada orang lain, tapi juga pada adiknya sendiri. Akbar selalu ia lihat sebagai anak bungsu yang hidupnya terlalu nyaman. Tapi hari ini, di ruang rapat produksi, Akbar berdiri di sisinya., tidak lari dan menghindar, entah kenapa, itu membuat dada Nizam terasa sedikit lebih ringan. Keesokan harinya, Akbar sudah berdiri di depan pabrik produksi induk bersama Adelia. Deru mesin terdengar konstan, aroma khas bahan baku menyebar di udara. Helm kese
Last Updated : 2026-02-06 Read more