Sore itu, setelah hampir setengah hari membantu Papa Wijaya di bengkel furnitur belakang rumah, Nizam merasa tangannya sedikit pegal, sesuatu yang jarang ia rasakan selama ini. Biasanya yang ia pegang adalah laporan keuangan, proposal kerja sama, atau kontrak bisnis bernilai miliaran. Hari ini ia memegang amplas dan kuas pernis. Aneh, tapi menenangkan. Papa Wijaya berdiri di sampingnya, memperhatikan detail ukiran pada kaki meja yang sedang mereka haluskan. “Dalam bisnis, Zam,” ucap Papa pelan, “jangan terlalu sering melawan arus.” Nizam menoleh. “Arus itu kadang bukan untuk dilawan, tapi untuk dipelajari. Kalau kamu paksa menentang tanpa perhitungan, yang ada kamu hanyut.” Nizam terdiam, menyimak. “Dunia usaha itu bukan cuma soal berani. Tapi soal membaca momentum. Soal tahu kapan harus maju, kapan harus menahan diri.” Nasihat itu sederhana, tapi terasa dalam. Nizam tersenyum tipis. “Terima kasih, Pa.” Papa menepuk bahunya. “Papa sudah makan asam garam. Kamu mas
Última actualización : 2026-02-17 Leer más