Pagi itu, suasana di kantin fakultas terasa berbeda bagi Maorielle. Biasanya, dentuman energi Arvan akan terdengar bahkan sebelum orangnya kelihatan. Entah itu suara tawa kerasnya atau jemari yang tak bisa diam mengetuk meja mengikuti irama imajiner. Namun, hari ini sosok itu seolah lenyap dari radarnya.Setiap kali Maorielle melihat Arvan di kejauhan, pemuda itu selalu dikelilingi oleh anggota bandnya. Arvan tampak sibuk membawa stik drum, berjalan terburu-buru menuju studio musik. Bahkan saat mata mereka sempat beradu, Arvan hanya memberikan anggukan kaku. Sangat formal, sangat asing, sebelum kembali memalingkan wajah dan menghilang di balik pintu kedap suara."Dia benar-benar sibuk, ya?" gumam Maorielle, matanya masih menatap ke arah perginya Arvan ke studio radio.Erina, yang sedang asyik memulas lip balm, melirik Maorielle dengan senyum yang sulit diartikan. "Tentu saja sibuk. Acara 'Acoustic Under the Rain' tinggal menghitung hari, Mao."Maorielle mengembuskan napas panjang. Ada
Baca selengkapnya