Maorielle menoleh perlahan. Wajah Khai tampak lebih lunak di bawah pijar lampu jalan yang kekuningan. Tidak ada kacamata, tidak ada buku tugas, hanya seorang pria yang keras kepala.Khai menoleh menatap Maorielle, membuat gadis itu sedikit gelagapan. Maorielle segera membuang muka, berpura-pura sangat tertarik pada genangan air di ujung sepatunya. Jantungnya berdegup kencang, menciptakan ritme yang lebih riuh daripada suara gerimis yang menghantam atap kanopi."Kenapa?" tanya Khai datar, namun ada nada geli yang terselip di sana. "Baru sadar kalau dosenmu ini juga manusia yang bisa berdiri di pinggir jalan?""Bukan begitu, Pak," sahut Maorielle pelan, masih enggan menatap balik. "Hanya... rasanya aneh melihat Bapak di sini."Khai memperbaiki posisi berdirinya, sedikit bergeser agar tubuhnya yang tinggi bisa menghalau tempias angin dingin yang mengarah ke Maorielle."Ini ketiga kalinya kita bersama di waktu hujan." ujar Khai.Maorielle tertegun. Ia mencoba memutar memori di kepalanya,
Read more