ANMELDENKeesokan harinya, kampus masih terasa ramai karena sisa-sisa kegiatan bakti sosial kemarin. Beberapa spanduk belum dilepas, dan di halaman fakultas masih ada mahasiswa yang membicarakan acara itu.Maorielle berdiri di depan sebuah kedai kopi kecil dekat gerbang kampus. Ia memegang dua gelas kopi hangat di tangannya. Uap tipis mengepul pelan, sementara jantungnya justru berdebar lebih cepat dari biasanya.Semalam ia tidak bisa berhenti memikirkan kejadian kecil itu. Khai diam-diam membelikannya burger. Ia tahu karena Erina yang tanpa sengaja membocorkan rahasia kecil itu. Sejak saat itu, Maorielle merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Bukan perasaan aneh… hanya saja ia merasa ingin membalas kebaikan itu.“Cuma kopi,” gumamnya pelan. “Bukan hal besar.”Namun tetap saja tangannya terasa sedikit gugup. Tak lama kemudian, sosok yang ia tunggu muncul dari arah parkiran dosen. Khai berjalan santai dengan tas ransel di bahunya. Kemeja putihnya digulung sampai siku, membuat penampilan
Meja distribusi semakin ramai menjelang siang. Kardus-kardus buku sudah mulai dipindahkan, pakaian disortir, dan paket sembako disusun rapi di atas meja panjang. Khai berniat ikut membantu.Setelah membantu memindahkan beberapa kardus, Khai tetap berada di area tenda bersama mahasiswa lain. Kadang membantu mengangkat barang, kadang berdiri di dekat meja registrasi bersama Arvan untuk mencatat jumlah donasi yang datang.Banyak mahasiswa terlihat sedikit canggung pada awalnya. Tidak setiap hari mereka bekerja berdampingan dengan dosen. Namun Khai terlihat santai saja.“Berapa paket yang masuk dari jurusan ekonomi?” tanya Khai pada Arvan.Arvan melihat daftar di clipboard. “Lima belas, Pak.”Khai mengangguk lalu menunduk melihat kertas catatan di meja. Ia meraih pulpen di sakunya, tapi berhenti. Sakunya kosong. Khai menghela napas kecil.“Sepertinya saya kehabisan pulpen.”Arvan langsung meraba sakunya sendiri. “Sebentar, Pak."Namun sebelum Arvan menemukan apa pun, sebuah tangan sudah l
Keesokan paginya kampus terasa lebih hidup dari biasanya. Langit cerah setelah beberapa hari hujan. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela panjang di koridor jurusan.Maorielle berjalan pelan sambil memeluk buku catatannya. Tubuhnya sudah jauh lebih baik, meskipun sisa lemas masih terasa sedikit. Ia menarik napas panjang. Sehari tidak masuk kelas membuatnya merasa seperti kembali ke kampus setelah waktu yang lama.Di depannya, koridor jurusan masih cukup sepi. Beberapa mahasiswa lewat sambil mengobrol, tapi suasananya belum terlalu ramai. Maorielle menunduk sebentar membuka jadwal kuliahnya di ponsel.Saat itulah... dari arah berlawanan seseorang berjalan cepat menyusuri lorong. Langkahnya tenang, ritmis, dan sangat familiar. Maorielle baru menyadarinya ketika jarak mereka tinggal beberapa meter. Khai.Dosen itu membawa beberapa buku di tangannya, kemeja putihnya rapi seperti biasa. Tatapannya awalnya lurus ke depan sampai akhirnya berhenti tepat pada Maorielle. Langkah mereka
Pagi itu kelas Bahasa Indonesia berjalan seperti biasa. Khai berdiri di depan kelas dengan spidol di tangan. Di papan tulis sudah tertulis satu kata: Metafora.Mahasiswa duduk rapi, sebagian mencatat, sebagian hanya menatap layar proyektor. Khai mulai menjelaskan seperti biasanya. Tenang, runtut, dan tanpa banyak basa-basi.“Dalam puisi, metafora bukan sekadar hiasan. Ia cara penyair memindahkan makna—” Ia berhenti sejenak.Tatapannya bergerak ke arah barisandi tengah. Bangku itu kosong. Khai melanjutkan kalimatnya, tapi ritmenya sedikit berubah.“—memindahkan makna… dari sesuatu yang konkret… ke sesuatu yang lebih… personal.”Beberapa mahasiswa menulis. Beberapa mengangguk. Namun tanpa sadar, Khai kembali melirik bangku yang sama. Kosong.Biasanya di sana duduk seseorang yang selalu membuka buku lebih dulu daripada yang lain. Selalu memperhatikan apa yang diterangkan Khai. Dan selalu menjadi bulan-bulanan Khai dalam memberi contoh. Hari ini tidak ada. Khai menutup spidolnya sebentar.
Matahari sore sudah mulai turun. Suara musik dari area festival terdengar sampai ke taman jurusan yang agak jauh dari keramaian. Lampu-lampu kecil dari stan makanan dan permainan terlihat berkilau di antara pepohonan.Maorielle, Erina, dan Arvan sedang duduk di bangku taman sambil menikmati minuman yang baru mereka beli. Angin mulai terasa sejuk, membuat suasana kampus yang biasanya ramai terasa lebih santai. Tiba-tiba suara dari pengeras suara terdengar jelas dari arah lapangan utama.“Perhatian untuk seluruh pengunjung festival budaya! Lima belas menit lagi kita akan mengadakan pelepasan lampion bersama di lapangan tengah. Bagi yang ingin ikut, silakan menuju area utama. Lampion akan dibagikan oleh panitia!”Erina langsung menoleh dengan mata berbinar.“Lampion!” katanya antusias. “Aku mau lihat!”Arvan tertawa kecil. “Kamu selalu tertarik sama hal yang menyala di langit.”“Karena itu romantis,” balas Erina cepat.Maorielle yang sejak tadi diam akhirnya tersenyum kecil. Cahaya lampu
Matahari siang menggantung cukup tinggi di langit kampus, memantulkan cahaya hangat pada deretan stan yang berjajar di sepanjang lapangan. Kain-kain warna-warni yang dipasang sebagai dekorasi festival berkibar pelan tertiup angin. Suara musik dari panggung utama bercampur dengan riuh tawa mahasiswa yang lalu-lalang membawa makanan.Aroma takoyaki, sosis bakar, dan minuman manis bercampur menjadi satu, membuat suasana terasa hidup. Maorielle, Erina, dan beberapa teman mereka berhenti di sebuah stan minuman kekinian yang antriannya cukup panjang.“Aku matcha saja,” kata Maorielle sambil melihat menu yang tergantung di papan akrilik.“Less sugar?” tanya penjual.“Iya.”Erina langsung menyahut dari sampingnya. “Kalau aku brown sugar milk tea.”Setelah memesan, mereka menyingkir sedikit dari depan meja agar memberi ruang untuk pelanggan berikutnya.Maorielle berdiri sambil melipat satu tangan di depan perutnya. Ia menunggu pesanan dengan sabar, tetapi matanya mulai bergerak ke sana kemari.







