Raviel, yang meskipun tampak santai namun memiliki insting pelindung seorang kakak. Dia segera menyadari bahwa atmosfer di antara mereka telah berubah menjadi medan magnet yang saling tolak-menolak. Tatapan Arvan yang terluka, sikap diam Maorielle yang penuh rahasia, dan senyum tenang Pak Khai menciptakan ketegangan yang sanggup memicu ledakan kapan saja."Oke, oke, sepertinya pendinginannya sudah cukup," ujar Raviel sambil menepuk pundak Maorielle sedikit lebih keras dari biasanya, seolah ingin membangunkan adiknya dari lamunan. "Mao, ayo pulang. Sudah sore"Maorielle mendongak, tampak sedikit lega karena mendapatkan alasan untuk segera pergi. "Ah iya, Ayo."Maorielle merapikan alat penghitung putaran dengan gerakan terburu-buru. Ia sempat melirik Arvan, ingin mengatakan sesuatu untuk memperbaiki suasana. Namun kata-katanya tertahan di tenggorokan saat melihat Arvan hanya menatap lurus ke arah lintasan lari dengan rahang yang mengeras."Duluan ya, Pak Khai. Duluan, Van!" pamit Raviel
Last Updated : 2026-02-15 Read more