Pada akhirnya, Tamara sama sekali bukan merindukannya. Yang lebih diinginkannya justru informasi tentang Silvar.Elina bersandar di daun pintu, berusaha menenangkan dirinya. "Aku nggak punya waktu. Aku nggak bisa pulang. Sudah, itu asja. Kalau Alfie masih mau menyelamatkan perusahaannya, suruh dia datang memohon padaku."Setelah mengatakan itu, Elina langsung menutup telepon. Tangannya gemetar. Padahal seharusnya dia merasa senang karena akhirnya berhasil menghancurkan rasa tidak rela dan khayalan yang selama ini tertanam di hatinya.Namun, air matanya tetap tidak berhenti mengalir.Nada dering ponsel kembali berbunyi. Dia mengira Keluarga Sankara menelepon lagi, jadi saat mengangkatnya, nada bicaranya dingin dan keras."Aku sudah bilang, aku nggak akan pulang! Soal hubunganku dengan Silvar juga bukan urusan kalian!"Dari seberang terdengar suara pria yang rendah dan familier. "Elina? Kok marah banget?"Elina tertegun, lalu segera meminta maaf, "Maaf, aku kira keluargaku yang telepon."
Read more